Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Selasa, 12 Februari 2019 / 20:10 WIB

PENYERAHAN BANTUAN PEMBACA 'KR' DI PANDEGLANG

Dapat Empat Wireless untuk Mendukung Pengajian

PARA korban tsunami di wilayah Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang tetap bersemangat mengikuti kegiatan keagamaan. Antara lain melalui pengajian dan dzikir. Karena itulah Tim Dompet 'KR' Peduli Korban Tsunami Selat Sunda membantu wireless kepada empat majelis pengajian di sana, masing-masing satu unit. Penerima sound system portable ini terdiri Majelis Ta'lim Al-Fatah di Kampung Tamanjaya Desa Tamanjaya, Majelis Asy-Syifa Kampung Babagan Desa Ujung Jaya, Majelis Dzikir Nurul Huda Kampung Cikawung Desa Ujungjaya, dan Musola Al-Ikhlas Kampung Tamanjaya Girang Desa Ujungjaya. 

"Saya mewakili empat majelis mengucapkan banyak terimakasih atas pemberian bantuan wireless ini. Peralatan elektronika ini sangat bermanfaat untuk mendukung kegiatan kami. Apalagi barangnya mudah dibawa ke mana-mana sesuai kebutuhan," kata HM Nung, pengasuh Majelis Al-Fatah saat Tim Dompet KR diantar relawan ACT menyerahkan bantuan tersebut. 

Pada kesempatan ini Tim Dompet KR juga menyerahkan bantuan perangkat sound system untuk empat masjid, yaitu Masjid Al-Ittihad Kampung Tamanjaya, Masjid At-Taqwa Kampung Masjid Desa Kertajaya, Masjid Mujahidin Kampung Cibinua Desa Tamanjaya, Masjid Al-Muttaqin Kampung Menteng dan Masjid Al-Muhlisin Kampung Babakan Tamanjaya.

Menurut H Nung, kegiatan Majelis Ta'lim, Al-Fatah berupa pengajian rutin mingguan maupun bulanan dengan peserta anak-anak hingga orangtua. Usai terjadi bencana, warga semakin bersemangat mengikuti pengajian. "Lokasi tempat ini sekitar dua ratus meter dari bibir pantai. Al-hamdulillah saat terjadi tsunami tidak ada korban jiwa. Namun puluhan perahu nelayan rusak parah," jelasnya.

Sementara itu Basuni, pengasuh Majelis Asy-Syifa menjelaskan, jemaah pengajiannya yang hadir rutin sekitar 70 orang. Mereka juga dari anak-anak kecil sampai bapak-bapak dan ibu-ibu. "Al-hamdulillah di kampung kami juga tidak ada korban jiwa saat terjadi tsunami," tambahnya.

Begitu juga Dzikir Nurul Huda Kampung Cikawung. Menurut Rusdi, jemaahnya ada sekitar 150 orang. Kegiatannya antara lain setiap Jumat ada pengajian untuk ibu-ibu dan setiap hari Minggu pengajian untuk bapak-bapak. Untuk anak-anak diadakan setiap sore. "Dengan adanya wireless, maka suara pengasuh saat memimpin dzikir maupun memberi taushiyah bisa didengar dari depan sampai belakang," kata Rusdi.

Sedang Surhadi, pengasuh majelis pengajian di Musala Al-Ikhlas Kampung Tamanjaya menjelaskan, kegiatan majelisnya juga padat. Setiap hari usai Asar diadakan pengajian untuk anak-anak dengan materi belajar membaca Kitab Suci Alquran. Kemudian malam hari ada pengajian untuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang biasa diikuti 60 orang. (Fie)