DIY Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 12 Februari 2019 / 14:05 WIB

Kiblat Papat Lima Pancer Masih Relevan dalam Pembangunan

SUKU jawa kaya akan filosofi dalam kehidupan yang masih relevan dalam era kekinian. Filosofi 'Kiblat Papat Lima Pancer'  petuah nilai-nilai kehidupan yang dapat membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik. 

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Sleman dalam acara italk live streaming yang diselenggarakan BRTV (www.bumdesbanyuraden.id) di Lapak Embung Serut, Desa Banyuraden, Gamping, Sleman (10/2/2019). Keselarasan, keseimbangan, keadilan dan pemerataan merupakan inti dari filosofi Jawa ini. 

Dalam urusan kebudayaan, flosofi 'Kiblat Papat Lima Pancer', Dinas Kebudayaan Sleman memaknainya sebagai sektor dan arah dalam pemajuan  yang harus mendapatkan upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kiblat papat merupakan empat sektor yang terdiri dari: Sektor utara merupakan kawasan lereng merapi yang menjadi sumber budaya dalam menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam, 

Sektor Timur banyak terdapat cagar budaya yang merupakan peninggalan dua agama yaitu: Hindu dan Budha yang merupakan simbol kerukunan kehidupan beragama dimasa lampau. Sektor ketiga Selatan terdapat situs Keraton Ambar Ketawang yang merupakan simbol kebudayaan dari keraton yang kaya akan nilai-nilai budaya/ filosofi Jawa. Sektor barat barat merupakan sektor yang menjadi sumber budaya agraris dan religi, yang akan dibangun Taman Budaya sebagai penandanya. Sektor kelima Pusat pemerintahan sebagai pancer merupakan pusat pemerintahan yang ada di Beran, Sleman.

Empat sektor diluar pancer (pusat pemerintahan)  harus mendapatkan prioritas yang sama, karena empat sektor diluar pancer mempunyai peranan yang tidak bisa diabaikan. Empat sektor tersebut kalau dikelola secara baik maka akan dapat membawa masyarakat Sleman pada keselarasan, keseimbangan, pemerataan, keadilan dalam pembangunan urusan kebudayaan. 

Senada dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Prof. Dr. I Wayan Dana, SST., M.Hum (Pembantu Rektor  I Bidang Akademik dan Kerjasama ISI): komponen kehidupan mempunyai ketergantungan hidup dengan komponen kehidupan lainnya. Dalam terminologi Jawa disimbolkan dengan: Kakang kawah (air ktuban), . Adi Ari-Ari, . Getih (darah) dan 4. Puser (Pusar). 

"Pancer (diri kita) tergantung pada 4 (empat) komponen kehidupan tersebut, tanpa 4 (empat) komponenl tersebut, pancer tidak bisa hidup. Hal tersebut selaras dengan kehidupan pemerintahan, dimana pancer (pusat pemerintahan) tidak akan hidup tanpa dukungan 4 sektor arah pemajuan kebudayaan lainnya, yang merupakan komponen penting dalam kehidupan pemerintahan itu sendiri, yaitu: sektor utara, timur, barat dan selatan." (*)