DIY Editor : Agus Sigit Selasa, 12 Februari 2019 / 11:47 WIB

TANTANGAN PENDIDIKAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Guru Harus Mampu Bekali Siswa Ketrampilan Abad 21

YOGYA, KRJOGJA.com - Inti dari revolusi industri 4.0 adalah konektivitas dari berbagai sumber daya (resources) melalui pemanfaatan smart technology, big data, artifisial intelijen, cloud computing dan lainnya. Arus revolusi industri 4.0 (digitalisasi) ini membawa dampak bagi kehidupan manusia, misalnya muncul market place online maupun jasa transportasi online yang mendistrupsi bidang serupa yang masih konvensional.

Demikian diungkapkan Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas dan Kemdikbud 2005-2013, Prof Suyanto PhD dalam Seminar Nasional bertema 'Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0' di Ballroom Ros In Hotel, Jalan Lingkar Selatan Ringroad Yogyakarta, Minggu (10/2/2019).

Seminar dalam rangka Milad ke-84 SD Muhammadiyah Kleco Kotagede Yogyakarta menghadirkan pembicara lain, A Teacher Educator & an Educational Facilitator, Ryo Suzuki dan Wakil Dekan FMIPA Universitas Negeri Malang, Dr Ibrohim MSi dipandu moderator Jovan Basir. Peserta seminar 150 orang terdiri guru sekolah Muhammadiyah se-Yogyakarta, guru sekolah negeri dan beberapa pengawas sekolah. Seminar dibuka Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Yogyakarta, Dr Ariswan.

Menurut Prof Suyanto yang pernah menjabat Rektor UNY, revolusi industri 4.0 juga memberikan tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Di era globalisasi ini, model pembelajaran dituntut mampu membangkitkan rasa ingin tahu (keheranan) siswa, sehingga muncul pola berpikir kritis untuk memecahkan sebuah permasalahan (soal). Guru tidak lagi hanya mengajar secara konvensional (transfer knowledge) tapi lebih dari itu menginspirasi siswa.

"Inti pendidikan di era revolusi industri 4.0 adalah guru harus bisa menginspirasi siswa dan membangkitkan rasa keheranan siswa terhadap sebuah materi pembelajaran, sehingga membuat siswa serba ingin tahu. Kemudian bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah juga harus bisa mengoptimalkan konektivitas jejaring antarsekolah untuk berbagi resource demi kemajuan bersama," kata Prof Suyanto.

Ryo Suzuki memaparkan mengenai Lesson Study (jogyo kenkyuu) yang dikembangkan di Jepang sejak 150 tahun lalu dan telah tersebar ke seluruh dunia sejak 1960-an, sebagai budaya sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Ryo, dalam model pendidikan lesson study ini, peran guru sangat strategis menginspirasi dan memunculkan rasa ingin tahu siswa.

"Kalau sudah muncul rasa keheranan dan ingin tahu dalam benak siswa akan sesuatu hal, mereka akan menjelajah, berkomunikasi, mengajak temannya berkolaborasi untuk menemukan jawaban atas sebuah permasalahan  secara mandiri. Disini guru tinggal membimbing dan mengarahkan," katanya.

Dr Ibrohim mengatakan, guru di era industri 4.0 harus membantu anak didik dengan membekali ketrampilan-ketrampilan abad 21 yang dibutuhkan anak untuk bersaing. Jika hanya terpancang pada model-model pembelajaran konvensional yang mementingkan hafalan dan transfer ilmu pengetahuan semata, anak akan kebingungan dimasa mendatang. 

"Sudah bukan zamannya lagi pembelajaran hanya hafalan kemudian disodori soal pilihan ganda. Ekspektasi pembelajaran abad 21 itu bagaimana membuat siswa mampu berpikir kritis, mampu berkolaborasi, kreatif dan bisa menjalin komunikasi," katanya. (Dev)