Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 12 Februari 2019 / 10:57 WIB

Banyak Kasus Siswa Lecehkan Guru, Apa kata Psikolog?

KASUS Siswa SMP Gresik yang menantang dan melecehkan gurunya di Wringinanom Gresik sempat viral dan menghebohkan media sosial. Kasus ini bermula saat siwa yang bernama AA tidak diterima karena ditegur untuk tidak merokok didalam kelas oleh sang guru yang bernama Nur Khalim. 

Bahkan AA dengan berani menantang dan memegang kerah baju Nur Khalim beberapa kali. Tidak hanya sampai disitu AA semakin menjadi dan berani memegang kepala gurunya, teman sekelasnya tidak ada yang berani menegur mereka lebih memilih merekam aksi tidak terpuji tersebut.

Psikolog Sekolah dan Dosen di UIN Sunan Kalijaga, Rachmy Diana merasa prihatin dengan adanya kejadian seperti ini. Rachmy berpendapat bahwa Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis karakter di berbagai sektor, terutama krisis karakter sopan santun.

BACA JUGA :

Gagah saat Bully Gurunya, Akhirnya Meringkuk saat Minta Maaf

Kasus Guru Ditantang Murid, Ini Pesan Mendikbud

 

"Pelaku yang notabene seorang pelajar mengabaikan nilai-nilai luhur , budi pekerti dan budaya ketimuran terkait dengan bagaimana sepatutnya seorang anak atau murid  bersikap terhadap guru atau orang yang lebih tua,” tutur Rachmy.

Rachmy menambahkan karakter seseorang bisa terbentuk bahkan hilang  dari dalam diri seseorang  karena suatu kebiasaan, pembiasaan, dan hal yang dibiasakan.  Perilaku yang dibiasakan ini didapat pertama kali oleh anak dari lingkungan keluarga.

"Dari keluargalah seorang anak berasal sebelum mereka masuk ke dalam lingkungan yag lebih luas.Tugas keluarga menjadi semakin berat karena harus  berperan sebagai benteng dan filter dari berbagai pengaruh yang tidak baik yang mungkin diterima anak tanpa disadari," terangnya.

Menurut Rachmi seandainya keluarga sudah menjalankan fungsinya dengan baik, maka hal ini akan membantu peran pendidik di sekolah terutama guru dalam mengarahkan dan mendampingi para siswa. Sekolah menurutnya menjadi mitra terbaik bagi orang tua untuk menjalankan peran pendidikan, terutama pada fase remaja, dimana  masa pencarian identitas diri dan labilnya emosi. Peran keluarga dan sekolah perlu mengambil peran secara tepat, memahami perubahan dan mengarahkannya. 

"Guru perlu memahami dengan baik karakteristik dan perkembangan peserta didik, memiliki kepribadian yang matang, bertanggungjawab, bijaksana  dan berwibawa dihadapan murid-muridnya. Guru yang kompeten juga perlu mengasah ketrampilan sosialnya untuk dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan anak didik maupun lingkungan secara lebih luas,” tambahnya.

Rachmy menerangkan agar kasus seperti ini tidak kembali terjadi perlu mengoptimalkan tripusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Artinya pendidikan akan kokoh jika dibangun oleh tiga pilar dan dilakukan secara bertanggung jawab oleh banyak pihak. Dan perlunya kesadaran bersama juga sinergi agar proses maupun hasilnya optimal sesuai dengan harapan. 

"Semua pihak, termasuk masyarakat, jangan hanya jadi penonton ,tingkatkan kepedulian dan keprihatinan bersama, Ayo sama-sama selamatkan generasi ini dari berbagai krisis karakter, terutama menanamkan nilai dan perilaku sopan santun mereka,” ucap Rachmy. (Rizki Oktavian)