DIY Editor : Ivan Aditya Senin, 11 Februari 2019 / 13:28 WIB

Petani Kulonprogo Rombak Tanaman Cabai

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Para petani di lahan pesisir selatan Kulonprogo merombak tanaman cabai yang masih produktif menyusul harga panenan cabai terpuruk hanya sekitar Rp 3.000 per kilogram (kg). Bekas lahan cabai diganti komoditas hortikultura lain yang diperkirakan lebih menguntungkan.

Petani merombak tanaman cabai dengan cara menyemprot pestisida rumput atau tidak menyiram dan membiarkan tanaman mengering. Cabai merah keriting yang seharusnya dipanen dibiarkan mengering di batang tanaman.

“Sejak November 2018 harga cabai merah keriting terus terpuruk. Hari terakhir harga di tingkat petani hanya Rp 3.000 per kg. Tanaman cabai produktif dibiarkan mati. Jika diteruskan, semakin besar kerugian yang dialami petani,” ujar Sukarman, Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji Desa Bugel.

Sukarman memiliki tanaman cabai yang sedang produksi seluas 1,5 hektare (ha). Sejak harga jatuh tidak dipanen lagi. Tanaman dimatikan menggunakan pestisida gulma dan cabai yang seharusnya dipanen dibiarkan membusuk.

Keterpurukan harga cabai, ujarnya, lebih banyak disebabkan ada impor cabai di tengah produksi dalam negeri melimpah. Impor mencapai 30.700 ton atau sekitar 40 persen dari produksi dalam negeri, meliputi cabai kering, cabai bubuk dan saos.

Suparman (55), seorang petani cabai warga Bugel 2, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan mengaku merugi. Tanaman cabai keriting dan cabai rawit akan diganti tanaman lain. Panen petikan terakhir cabai merah keriting hanya laku sekitar Rp 5.000 dan cabai rawit Rp 10.000 per kg.

Menurutnya, cabai dari tanaman seluas 2 ribu meter persegi tidak dipanen lagi. Cabai yang waktunya harus dipetik dibiarkan hingga mengering dan membusuk di batang. “Dari panenan cabai yang dijual tidak cukup untuk membiayai tenaga kerja,” tuturnya. (Ras)