Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 10 Februari 2019 / 20:42 WIB

BTN Kurangi Backlog Perumahan Cuma 50 Persen

JAKARTA, KRJOGJA.com - Dirut Bank Tabungan Negara ( BTN) Maryono mengatakan, BTN hanya bisa mengurangi backlog perumahan yang saat ini masih di kisaran 11 juta unit, sekitar 50 persen dalam kurun waktu 5 tahun.  

“BTN  bisa mengurangi mengurangi backlog sekitar 50 persen dari 11 juta itu “ kata Dirut Bank Tabungan Negara ( BTN) Maryono, pada acara funwalk ulang tahun BTN 69 di Jakarta, Minggu (10/2).

Pada tahun 2018 sekitar 1,1 juta rumah yang terealisasi untuk mengurangi backlog. Namun pada tahun 2019 ini diperkirakan akan bisa mengurangi backlog sekitar 1.5 juta rumah.  Sedangkan porsi BTN tahun 2018 sekitar 750 ribu unit sedangkan tahun 2019 ini diperkirakan mencapai 850 ribu unit.

Dikatakan untuk mencapai target tersebut ada beberapa strategi untuk meningkatkan kredit BTN yakni pertama, meningkatkan kerja sama dengan instansi atau pihak swasta untuk jasa layanan perbankan, khususnya pembiayaan perumahan. 
Kedua, kata Maryono mengembangkan digital ecosystem dengan memperkuat fitur-fitur dari digital channel Bank BTN untuk layanan perbankan baik transaksi maupun kredit demi menghadapi disrupsi ekonomi yang terjadi. Sedangkan ketiga
memperkuat kemitraan dengan Pemerintah baik pusat maupun daerah untuk pembiayaan dan penyediaan perumahan. Terakhir adalah menyelaraskan program dan target perseroan dengan misi pemerintah dalam holding perbankan serta Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang akan direalisasikan.
 
“Untuk menjalankan strategi tersebut tentu kami harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan agar dapat memenuhi target-target yang dipasang pemerintah untuk mengurangi backlog perumahan yang saat ini masih di kisaran 11 juta unit,” kata Maryono.

Dijelaskan,  saat ini  BTN sebagai bank nomor 5 terbesar di Indonesia berdasarkan aset. Aset Bank BTN merangkak naik dalam 1 tahun terakhir menembus lebih dari Rp 300 triliun atau naik sekitar 17 persen dibandingkan pencapaian tahun 2017 lalu yang tercatat sebesar Rp 261,5 triliun. 

Peningkatan aset Bank yang fokus pada kredit perumahan tersebut diiringi dengan pertumbuhan kredit yang positif meski dalam kurun waktu lima tahun terakhir terjadi gejolak ekonomi global. (Lmg)