Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 09 Februari 2019 / 06:10 WIB

Pemerintah Dorong Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif, Apa Manfaatnya?

INDUSTRI otomotif saat ini menjadi salah satu andalan untuk ekspor manufaktur Tanah Air. Bahkan, untuk meningkatkan daya saing, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry di sektor otomotif.

Konsep ini, dipercaya mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur dalam negeri, dan sekaligus berkontribusi dalam menerapkan circular economy yang menjadi bagian dari industri 4.0.

"Sekarang 73 persen ekspor kita ditopang dari industri manufaktur, dan sektor otomotif menjadi salah satu andalan," ujar Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, saat Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya manusia Industri Manufaktur Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di SMK Ananda Mitra Industri Deltamas di Cikarang, Jawa Barat, dalam siaran pers, Jumat (8/2/2019).

Dengan daur ulang plastik ini, memang melihat tren saat ini, yaitu komponen besar dalam kendaraan seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan stainless steel, tetapi menggunakan kandungan plastik. "Plastik itu bukan sampah, dari segi cost plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah," tambah Airlangga.

Jika industri otomotif menggunakan virgin plastic, maka biaya produksi akan lebih mahal.

Terlebih, dengan impor virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi, karena saat ini Indonesia baru mampu memproduksi satu juta ton virgin plastic, padahal kebutuhannya mencapai lima juta ton.(*)