Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Jumat, 08 Februari 2019 / 07:30 WIB

2018, Serangan Malware Terbanyak ke Indonesia dari Rusia

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) baru saja mengeluarkan hasil laporan dari kerja sama dengan Indonesia Honeynet Project (IHP). Dalam forum Cyber Corner yang digelar di Jakarta, laporan itu lantas diserahkan secara simbolis pada perwakilan media.

Dalam sambutannya, Djoko Setiadi, selaku Kepala BSSN menyebut kerja sama ini merupakan respon BSSN terhadap keamanan siber Indonesia. Sementara laporan ini dibuat sebagai pertanggungjawaban BSSN terhadap publik.

Laporan ini tidak hanya berisi mengenai serangan yang terjadi di Indonesia, melainkan hasil pemantauan trafik dan deteksi serangan siber termasuk malware, ditambah analisis tiga malware terbanyak.

Salah satu temuan menarik dari laporan ini adalah sumber serangan siber yang menyerang Indonesia paling banyak berasal dari Rusia.

Kendati demikian, Direktur Deteksi dan Ancaman BSSN, Sulistyo menyebut bukan berarti serangan itu langsung dari negara tersebut.

"Jadi yang kita deteksi adalah nomor internet protocol (IP), bisa jadi penyerang hanya menggunakan Rusia sebagai proxy. Belum dapat dikatakan Rusia sebagai dalang serangan siber tersebut," tuturnya menjelaskan saat bertemu dengan awak media, Kamis (7/02/2019).

Untuk diketahui, data laporan ini dihimpun dari 21 sensor Honeypot yang tersebar di enam provinsi. Secara keseluruhan, total serangan yang ditangkap sensor tersebut mencapai 12.895.554.

Honeypot sendiri merupakan sistem yang dirancang Honeynet untuk menjebak penyerang atau hacker sebab memiliki kemiripan dengan sistem asli. Lalu, sistem ini akan merekam interaksi penyerang untuk dijadikan sumber informasi penting dalam mempelajari teknik yang dipakai.

Selain Rusia, sumber serangan kedua dan ketiga terbesar berturut-turut berasal dari Tiongkok dan Amerika Serikat. Sumber lain yang juga ditangkap oleh sensor adalah Belanda, Perancis, India, Kanada, Jerman, termasuk Indonesia sendiri.(*)