DIY Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 07 Februari 2019 / 16:50 WIB

Angka Opini Radikal dan Intoleransi Guru di Yogya Cukup Tinggi

YOGYA, KRJOGJA.com - Guru memiliki posisi strategis sekaligus memiliki peran penting dalam pembentukan nilai, pandangan serta pemikiran siswa. Dengan hal tersebut, akan mampu memperkuat nilai kebangsaan,
konsolidasi demokrasi dan ruang yang membentuk keadaban publik. 

Sayangnya, hasil survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2018 justru menunjukkan opini intoleransi dan opini radikal yang tinggi di kalangan guru di berbagai
tingkatan sejak TK hingga SMA.

"Penelitian ini bertujuan melihat pandangan serta sikap keberagamaan guru sekolah/madrasah di Indonesia," tutur Koordinator Survei Nasional 2018 Dr Yunita Faela Nisa PSi dalam Seminar Diseminasi Hasil Survei
Nasional PPIM UIN Jakarta mengangkat tema 'Ada Opini Radikal di Antara Guru yang Toleran?' di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (7/2).

Turut hadir sebagai narasumber dalam kesempatan tersebut, Dewan Penasehat PPIM UIN Jakarta Prof Dr Jamhari Makruf, Plt Kepala Kanwil Kemenag DIY Drs H Edhi Gunawan MPdI, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi
(LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta Dr Bambang Supriyadi serta Dr Zainal Arifin Ahmad dari UIN Sunan Kalijaga.

Dijelaskan Yunita, untuk DIY dengan jumlah guru muslim yang disurvei sebanyak 32 orang, baik dari guru sekolah maupun madrasah mulai level TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA. Hasilnya  menunjukkan bahwa opini
intoleran sebesar 59,38 persen. Hal ini hampir sama dengan persentase secara nasional sebesar 57,03 persen. Dengan diseminasi ini diharapkan dapat menemukan solusi bersama untuk bisa berbuat lebih dalam
mengatasi kondisi yang demikian.

"Ada opini intoleransi dan opini radikal guru di semua level pendidikan secara nasional yang angkanya cukup tinggi. Hanya saja pandangan tentang hal tersebut berbeda-beda. Untuk DIY misalnya, sebanyak 59,38 persen guru memiliki opini yang mendukung berdirinya Negara Islam. Meski demikian, pandangan tentang dukungan pendirian
Negara Islam memiliki spektrum yang bervariasi," sambung Yunita.

Dikatakannya pula, ada spektrum pemahaman misalnya saja ketika anak didik menjalin hubungan dengan kelompok yang berbeda keyakinan, dikhawatirkan akidahnya akan luntur. Kondisi ini khususnya terjadi
pada guru yang mengajar di jenjang lebih rendah, seperti TK atau SD.

Sementara Plt Kepala Kanwil Kemenag DIY Drs H Edhi Gunawan MPdI dalam kesempatan tersebut mengaku cukup kaget dengan hasil survei karena jika dilihat secara umum tidak ada indikasi yang menonjol. Hanya saja
ia mengakui jika guru-guru madrasah mulai dari RA-MA selama ini cenderung bergaul dengan kelompok yang homogen. Tidak pernah bertemu dengan murid nonmuslim sehingga tidak terbiasa berkomunikasi yang
kemungkinan dapat memancing intoleransi.

"Bahkan kecenderungannya mereka juga tinggal di lingkungan muslim, bukan masyarakat majemuk. Karena itu sesuai arahan Menag RI, kami akan memperbanyak program yang memberikan pengalaman bagi guru terkait
kemajemukan dan keberagaman. Termasuk juga mensosialisasikan  moderasi agama," tegasnya. (Feb)