Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 07 Februari 2019 / 01:41 WIB

MUNCIKARI SEDIAKAN MAHASISWI

Bongkar Prostitusi Online, Sekali Kencan Rp 2 Juta

PURWOKERTO, KRJOGJA.com - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Banyumas, setelah melalui penyelidikan akhirbya berhasil mengungkap kasus prostitusi online melalui media sosial twitter dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) mahasiswi S-2, pekerja, pemandu lagu dan freelancer.

Kasat Reskrim Polres Banyumas AKP Gede Yoga Sanjaya, Rabu (6/2/2019), menjelaskan dalam pengungkapkan kasus prostitusi online, polisi juga berhasil menangkap palaku atau mucikari App (28) di salah satu hotel di Purwokerto, saat membuka kamar.

"Saat diperikas pelaku App yang  diketahui warga Kelurahan Jatipadang,Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sudah melakukan aksinya sejak awal tahun 2018 hingga sekarang," kata Gede Yoga Sanjaya.

Dalam modusnya  pelaku membuat sebuah akun Twitter untuk menawarkan  wanita-wanita atau PSK melalu twitter lengkap dengan fotonya kepada lelaki  hidung belang untuk dibooking dengan tarif Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta untuk durasi short time atau sekali main. 

Setelah mendapat order atau pesanan dari hidung belang.Pelaku yang menerima uang depan (dp) baik lewat transfer atau tunai, kemudian menyiapkan kamar atas nama pelaku.

"Dalam pengakuanya  pelaku memiliki  15 PSK namun yang masih aktif dan mau bekerja dengan tersangka ada sebanyak enam orang," jelas Gede Yoga Sanjaya. 

Usia PSK  rata-rata antara 20 tahun sampai dengan 30 tahun.Mereka barasal dari Banyumas dengan latar belakang profesi mahasiswi,pekerja dan pemandu lagu. Dalam sekali transaksi pelaku mendapat uang jasa dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Kemudian dalam sehari minimal ada tiga kali transaksi.

Selain menangkap pelaku polisi menyita barang bukti berupa satu bok kondom, satu lembar bukti pemesanan kamar hotel atas nama tersangka. Barang bukti lainya handphone yang digunakan untuk berkomunikasi melalui media sosial Twitter, tiga kartu ATM dan dua buku rekening bank. Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya pelaku dijerat dengan pasal 27 ayat 1 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik dengan ancaman makasimal 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.(Dri)