Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 05 Februari 2019 / 09:40 WIB

Dunia Butuh 310 Juta Ton Minyak Nabati

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pada tahun 2050. diperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 310 juta ton. Saat ini minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35 persen dari total kebutuhan minyak nabati dunia dengan konsumsi terbesar di India, RRT dan Indonesia. 
 
Adapun proporsi penggunaannya adalah 75 persen  untuk industri pangan dan 25 persen untuk industri kosmetik, produk pembersih dan biofuel.  Namun berdasarkan hasil studi Satuan  Tugas Kelapa Sawit International Union for Conservation of Nature (IUCN) untuk mengganti komoditas kelapa sawit dengan komoditas minyak nabati Iainnya  akan secara signifikasn meningkatkan total kebutuhan lahan untuk memproduksi minyak nabati non kelapa sawit dalam rangka pemenuhan kebutuhan global alas minyak nabati. 
 
Misalnya untuk menghasilkan 1 ton minyak nabati dari kelapa sawit, dibutuhkan  0,26 hektar lahan. Sedangkan untuk menghasilkan 1 ton minyak nabati dari bunga matahari, diperlukan lahan sekitar 1, 43 hektar serta untuk mencapai 2 ton minyak nabati dari kacang kedelai, dibutuhkan lahan seluar 2 hektar.
 
“ Jadi hasil studi menyimpulkan bahwa komoditas minyak nabati Iainnya membutuhkan lahan 9 kali lebih besar dibandingkan kelapa sawit,” kata  Menko Perekonomian Darmin Nasution, di Jakarta, Senin (4/2).
 
Menko Darmin lantas berpesan agar hal ini dilanjutkan oleh studi-studi lanjutan guna mendapatkan data dan informasi yang objektif berbasis ilmiah terkait komoditas kelapa sawit.
: Studi ini hendaknya tetap menggunakan pendekatan target-target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). sebagai kerangka pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati secara global,” paparnya.
 
Lebih lanjut dikatakan Darmin, di Indonesia. alokasi pemanfaatan Iahan untuk menunjang kehidupan seluas 33 persen (66juta hektar) dari total luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut. perkebunan kelapa sawit menjadi yang terluas dengan pemanfaatan sebesar 14 juta hektar. Dikuti sawah yang menempati 7,1 juta hektar Iahan  dan selebihnya pemukiman dan fasilitas publik Iainnya.  Bahkan hasil studi juga menyatakan bahwa wilayah tropis di Afrika dan Amerika Selatan merupakan daerah potensial untuk penyebaran kelapa sawit.
 
Wilayah tersebut merupakan habitat bagi setengah (54 persen ) dari spesies mamalia terancam di dunia dan hampir dua pertiga (64 persen) dari spesies burung yang terancam. Jika kelapa sawit digantikan oleh tanaman penghasil minyak nabati Iainnya. maka akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem hutan tropis dan savana di Amerika Selatan. 
 
Sementara itu Kepala Satgas Kelapa Sawit IUCN Erik Meijaard mengatakan, temuan Iain dalam studi antara lain menunjukkan, keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis diisi sekitar 193 spesies yang langka. seperti orangutan. siamang, gajah serta harimau. 
Pemerintah Indonesia pun sudah mengalokasikan habitat bagi flora dan fauna tersebut. Jenis habitatnya berupa taman nasional, cagar alam. suaka margasatwa. dan kawasan lindung Iainnya dengan luasan hutan konservasi sebesar 22.1 juta ha dan hutan lindung seluas 29.7 juta ha. 
 
Selain memberikan kawasan perlindungan ke satwa. pemerintah juga telah mengalokasikan uang lain diluar kawasan pelindungan sebagai areal habitat satwa seperti koridor satwa  (Kawasan Ekonomi Esensial (KEE), serta High Conservation Value (HCV).
 
Erik Mejiaard yang juga penulis utama studi tersebut menyatakan, “Jika melihat dampak kerusakan terhadap keanekaragaman hayati yang ditimbulkan oleh kelapa sawit dengan perspektif global, maka tidak ada solusi yang sederhana. Separuh dari populasi dunia menggunakan minyak kelapa sawit dalam bentuk makanan, dan jika ini kita larang atau boikot. minyak nabati lainnya yang membutuhkan Iahan Iebih luas akan menggantikan kelapa sawit.
 
Kelapa sawit akan tetap dibutuhkan dan kita perlu segera mengambil langkah untuk memastikan produksi kelapa sawit yang berkelanjutan, memastikan semua pihak pemerintah, produsen dan rantai pasok menghargai komitmen mereka terhadap keberlanjutan.  (Lmg)