DIY Editor : Danar Widiyanto Senin, 04 Februari 2019 / 20:10 WIB

Tidak Ada DO untuk HS, UGM Biayai Kuliah Agni

SLEMAN, KRJOGJA.com - UGM menegaskan tidak ada hukuman Drop Out (DO) bagi HS meski mahasiswa Teknik tersebut mengaku bersalah dan meminta maaf atas kejadian yang terjadi pada Agni (bukan nama sebenarnya) saat KKN di Seram Maluku Juli 2017 lalu. Di sisi lain, UGM juga menyatakan siap memberikan biaya kuliah dan hidup untuk Agni hingga menyelesaikan kuliahnya di Fisipol UGM. 

Baca Juga: HS dan Agni Tandatangan, Kasus Dugaan Pencabulan Mahasiswi UGM Berakhir Damai

Rektor UGM Prof Panut Mulyono mengatakan pihaknya berkomitmen untuk memberikan dukungan pada Agni untuk menyelesaikan kuliahnya. Menurut Panut, UGM siap mendanai biaya studi dan biaya hidup hingga yang bersangkutan menyelesaikan kuliah di Fisipol UGM. 

“UGM memberikan dukungan dana untuk menyelesaikan studi setara dengan komponen dalam beasiswa bidik misi yakni UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan biaya hidup pada saudari AN. UGM mendorong agar baik HS maupun AN bisa selesai bulan Mei 2019,” ungkap Panut pada wartawan Senin (4/2/2019). 

UGM menurut Panut juga membiayai keperluan konseling baik HS maupun Agni yang telah dijalani selama beberapa waktu terakhir. Hal tersebut dilakukan lantaran baik HS maupun Agni wajib mengikuti mandatory konseling psikologis klinis yang diamanatkan UGM 

“UGM memfasilitasi dan menanggung kebutuhan dana konseling baik untuk HS maupun oleh AN sebagaimana yang harus dilakukan sesuai mandatori kampus,” sambung Panut. 

Baca Juga: Pelaku Kekerasan Seksual UGM Batal Diwisuda

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno mengungkap bahwa pihak kampus memastikan tidak ada DO bagi HS seperti yang dicuatkan selama ini. Sejak awal baik dari Agni maupun pihak kampus tidak pernah mewacanakan adanya DO untuk HS meski mengaku bersalah atas kejadian tersebut. 

“Tidak ada, DO itu baik dari AN juga tidak ada pembicaraan meminta seperti itu sehingga memang tidak ada hal tersebut dibicarakan. Yang ingin kami tegaskan tidak ada paksaan bagi kedua pihak untuk melaksanakan perdamaian hari ini,” sambung dia. 

Meski begitu, pihak UGM tidak bersedia membeberkan secara detail terkait rekomendasi Komite Etik kampus yang telah menyusun rekomendasi keputusan untuk rektor pada 31 Desember 2018 lalu. Alasan psikologis bagi HS maupun Agni menjadi titik berat UGM tak bersedia menjelaskan detail kesalahan yang dilakukan HS saat KKN Juli 2017 lalu. 

“Kami sengaja mendisclose rekomendasi Komite Etik demi keamanan psikologis adik-adik semua ini (HS dan Agni). Namun apa yang dilakukan rektor ini basisnya hasil kerja komite etik dan kami melangkah berdasar komite etik,” pungkasnya. (Fxh)