DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 04 Februari 2019 / 09:25 WIB

Bangunan Heritage Malioboro Belum Seluruhnya Terevitalisasi

YOGYA, KRJOGJA.com - Bangunan haritage di kawasan Malioboro yang merupakan bagian dari sumbu filosofis secara bertahap telah direvitalisasi. Namun demikian, masih ada bangunan haritage yang terbengkalai, yakni eks Toko Maranatha yang justru berada di dekat Kantor Kepatihan.

Keberadaan bangunan yang sudah puluhan tahun tidak terawat menimbulkan tanda tanya masyarakat. Apalagi bangunan yang terbengkalai tersebut justru mengurangi keindahan pandangan di kawasan Malioboro yang sudah ditata.

Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengakui adanya satu bangunan yang masih terbengkalai. Namun Dian enggan menyebutkan bangunan mana yang dimaksud. ”Yang jelas, kami memiliki program untuk penataan bangunan heritage ke depannya,” ujar Dian
kepada KR, Jumat (1/2)

Ditegaskan Dian, Dinas Kebudayaan DIY tetap komitmen dalam upaya melestarikan keberadaan heritage atau bangunan cagar budaya (BCB) yang ada di wilayah Malioboro Yogyakarta. Karena penataan tersebut menjadi salah satu bagian penting penataan sumbu filosofis yang membentang dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak.

Pemda DIY terus menyiapkan perencanaan, desain dan regulasi yang tepat.
Termasuk dalam kegiatan tersebut, terus melakukan komunikasi dengan pemilik
serta mengecek arsip datadata lama maupun baru yang dimiliki. "Untuk memudahkan kami membuat pemetaan tiap penggal. Dari masing-masing penggal itu ada segmen
karakteristik masing-masing. Misal Jalan Malioboro sisi barat dan timur memiliki segmen tersendiri. Segmen satu gaya arsitekturnya China. Segmen lainnya
gaya arsitektur India atau bahkan Indis,” jelas Dian.

Dalam penataan tersebut, Dinas Kebudayaan DIY juga mengelompokkan bangunan
di wilayah tersebut dalam tiga kategori, yakni bangunan lama cagar budaya, bangunan lama dan bangunan baru. Semua kategori tersebut secara bertahap akan
terakomodasi melalui perencanaan yang matang.

"Secara umum nantinya akan ada perhatian secara total. Bangunan baru, bangunan lama, fasadnya akan dipertahankan dan disesuaikan. Bangunan lama CB secara bertahap akan diperhatikan pemeliharaannya. Jika ada perubahan, kami akan cek kembali data yang lama untuk panduan mengembalikan pada keasliannya sebatas pada yang ada,” sebutnya.

Pengenalan karakter bangunan menurut Dian dapat dilakukan dari dokumentasi foto atap lama. Selain itu juga bisa juga ditentukan berdasarkan koneksi dengan bangunan lain di sebelahnya. Termasuk juga dilakukan kerjasama berbagai
pihak terkait untuk menentukan merujuk pada data yang dimiliki

“Prinsip tersebut dapat dipakai untuk bangunan yang tidak ada data masa lalunya,” jelas Dian. Jika merujuk pada hasil kajian dan indetifikasi, dimungkinkan tidak dapat menemukan sejarah sepenuhnya. Sebab itu penting untuk melihat dominasi desain arsitektur di tiap penggal yang sudah dikelompokkan. (Feb)