DIY Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 03 Februari 2019 / 13:06 WIB

Napak Tilas Pangeran Diponegoro Bangkitkan Jatidiri Bangsa

SLEMAN, KRJOGJA.com - Sejumlah tokoh agama, mahasiswa, pemerhati sejarah dan trah Diponegoro mengikuti napak tilas Pangeran Diponegoro, Sabtu (2/2). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro yang kini sedang dipamerkan di Jogja Gallery.

"Ini merupakan bentuk usaha untuk melihat kembali sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro yang terekam dalam Babad Diponegoro, karya besarnya saat dalam pengasingan setelah tahun 1830,” jelas Roni Sodewo, Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi).

Menurut Roni, dalam Babad Diponegoro disebutkan bahwa beberapa desa seperti Bandut Kidul di Sedayu Bantul, Dusun Kasuran di Seyegan dan Dusun Lengkong di Tempel Sleman merupakan lokasi terjadinya perang antara pasukan Diponegoro dengan penjajah Belanda. Karena itu, napak tilas ini difokuskan di wilayah Sedayu dan Sleman Barat. Peserta napak tilas antara lain berasal dari Bandung, Solo, Purworejo dan Yogyakarta.

Sejarawan Ahmad Athoillah MA yang juga pemandu acara tersebut menyatakan bahwa kejadian di desa-desa tersebut merupakan tonggak awal kemenangan sang pahlawan nasional. “Napak tilas ini diharapkan mampu membangkitan kembali identitas nasionalisme di ruang lokal, seperti pedesaan di DIY,” tandasnya.

Dikatakan, kejadian di sejumah desa di Bantul dan Sleman merupakan tonggak awal kemenangan Diponegoro, sekitar Juli 1826. “Desa-desa dimaksud juga disebutkan dalam Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro sewaktu berada di pengasingan, setelah tahun 1830,” jelas Ahmad Athoillah yang juga pemerhati Perang Jawa (1825- 1830). (M-1)