Olahraga Editor : Agus Sigit Sabtu, 02 Februari 2019 / 19:35 WIB

Sepakbola Indonesia Tertinggal Jauh Dibanding Klub Miskin Eropa

SLEMAN, KRJOGJA.com - Pelatih PSS Seto Nurdiantoro menjalani studi banding ke Deportivo Alaves bersama 19 pelatih Indonesia lainnya yang mengikuti program lisensi Pro AFC belum lama ini. Klub Deportivo Alaves menjadi tujuan untuk melakukan studi kasus dalam modul kelima kursus yang telah dilakoni sejak 2018 lalu. 

Berbagai pengalaman menarik didapatkan para pelatih Indonesia yang seolah membuka mata lebih lebar atas kondisi yang terjadi di persepakbolaan Eropa. Kak Seto misalnya, menilai bahwa sepakbola Indonesia benar-benar tertinggal cukup jauh ketika melihat situasi di Alaves. 

“Alaves itu tim miskin di Eropa tapi pembinaan mereka luar biasa. Kalau saya bilang, kita tertinggal cukup jauh dari mereka. Tim pelatih mereka dari usia dini hingga senior punya lisensi Pro UEFA semua, lha kita belum ada, baru mau,” ungkapnya pada wartawan Sabtu (2/2/2019). 

Dari Alaves pula Kak Seto belajar pentingnya pengelolaan klub secara menyeluruh termasuk sisi pembinaan usia muda. “Banyak hal yang dipelajari, mereka serius membina usia muda dan ya di satu sisi kita tertinggal jauh tapi di sisi lain optimis kita bisa setara, mungkin nanti saat usia saya sudah 75,” sambungnya dengan setengah bercanda. 

Dari sisi kepelatihan di lapangan dengan metode yang diterapkam selama ini Kak Seto menilai bawasanya perbedaan kualitas antara yang terjadi di Indonesia tidak terlalu jauh dengan Eropa. “Kalau di lapangan hampir sama, tapi secara keseluruhan kita masih harus belajar banyak. Mereka semua pelatih lisensi Pro UEFA kemudian pelatih fisik, kiper masing-masing ambil course yang lebih spesifik lagi,” ungkapnya lagi. (Fxh)