DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 01 Februari 2019 / 00:46 WIB

Dari UII, Semangat “Arsitek Cinta Alam” Digelorakan

SLEMAN, KRJOGJA.com - 40 persen energi dunia saat ini dihabiskan untuk bangunan. Bukan hanya raksasa dunia saja seperti Amerika Serikat dan Cina yang tercatat menjadi penyumbang terbesar, namun ternyata penghabisan energi tersebut juga sampai di Indonesia. 

Hal ini tercuat dalam Seminar Nasional Sakapari-3 2019 dengan pembicara utama Prof.Dr. Joseph Prijotomo, Dr. Jatmika Adi Suryabrata, dan Jarwa Prasetya IAI di auditorium FTSP UII Kamis (31/1/2019) pagi. Noor Cholid Idham, Ketua Jurusan Arsitektur UII menyampaikan pemantik tersebut tepat sebelum seminar dimulai. 

Peradaban modern yang berkembang saat ini ternyata membawa dampak positif sekaligus negatif bagi alam. Padahal, di Indonesia dengan Nusantara sejak masa lampau, leluhur kita telah memberikan contoh untuk arif dan bijaksana memanfaatkan alam. 

“Kami di Arsitek UII mencoba berdiskusi dan kemudian mengambil sikap bahwa profesi ini bertanggungjawab atas peradaban. Melalui seminar ini dengan pembicara yang luar biasa maka semangat untuk mencintai alam itu bisa tersampaikan secara luas,” ungkapnya di sela seminar. 

Selama ini UII khawatir lantaran arsitek di tanah air lebih cenderung mengadaptasi arsitektur barat yang secara kondisi alam tak terlalu cocok bagi Indonesia. “Kita lupa, orang asing datang memberi contoh bersikap dengan alam. Mereka datang ke Indonesia dan membuat bangunan besar di sini yang sebenarnya tidak cocok dengan kondisi alam. Orang sudah mulai sadar bagaimana memaknai arsitektur tropis dan sadar kedaerahannya misalnya Charles Korea mendesain bangunan yang sesuai lingkungan dengan tak membuat kerusakan. Harapan kami semangat-semangat ini bisa disebarkan dari UII,” tandasnya. 

Rektor UII, Fathul Wahid pun menyampaikan apresiasi atas tema Sustainability for Architecture yang digagas Jurusan Arsitektur UII di Sakapari 3 2019. UIi menurut rektor memiliki semangat yang sama untuk mewujudkan kelestarian alam dimulai dari kampus. 

“Kami sangat apresiasi ada kelompok yang menyadarkan pentingnya kelestarian, dan kali ini arsitek. Saat ini tangan jahil manusia begitu terlihat hingga merusak alam. Arsitektur ini merasuk ke berbagai segi kehidupan dan ada irisan, dan harapannya semangat ini menular ke samakin banyak masyarakat,” terangnya. 

Kegaiatan seminar sendiri merupakan rangmaian penutup kegiatan Sakapari 2019 yang sebelumnya telah diawali event ARCHITECTALK#8 dengan menghadirkan Arsitek Yu Sing, Open House dengan membuka secara umum Pameran dan Seni Instalasi Hasil Pendidikan Semester Ganjil 2018/2019, juga Bincang Arsitektur dan Pameran di Mezzanin Cafe selama tiga malam berturut-turut. Seminar Nasional Sakapari kali ini diikuti 116 presenter dari 5 institusi sebagai wujud nyata sumbangsih Jurusan Arsitektur UII dalam upaya mendukung kelestarian lingkungan. (Fxh)