DIY Editor : Agung Purwandono Rabu, 30 Januari 2019 / 12:23 WIB

JADI SUMBER INFORMASI

Di Kawasan Merapi Masih Ada Warga Percayai Mimpi

SLEMAN, KRJOGJA.com – Masyarakat di kawasan Gunung Merapi masih ada yang percaya mimpi sebagai sumber informasi. Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan  oleh Universitas Islam Indonesia (UII).

“Masih ada yang percaya, tanpa ada wisik letusan Merapi tidak membahayakan dan tak perlu melakukan evakuasi," jelas Dosen Prodi Teknik Industri FRI UII Dr Dwi Handayani ST MSc kepada pers di Kampus UII Jalan Kaliurang, Senin (28/1/2019). Penelitian dilakukan dengan responden 400 yang disurvei satu per satu, wawancara dengan tokoh masyarakat dan lainnya

Dwi menjelaskan hasil penelitian 'Analisis Dinamika Evakuasi saat Bencana Letusan Gunung Api, Studi Kasus Gunung Merapi Sleman DIY' yang dilakukan dengan memilih responden yang mengalami erupsi Gunung Merapi 2010.

Lebih lanjut Dwi mengatakan, hasil penelitian mengungkap bahwa baru 54,43% masyarakat yang siap siaga bencana (prepared community member). Sedang yang belum siap angkanya masih cukup tinggi, 12,94%.

"Saat ditanya mengenai sumber informasi yang dipercaya mengenai perlu tidaknya evakuasi, sebanyak 89% warga menyatakan pemerintah. Namun hanya 3,17% sekarang yang percaya tanda-tanda alam dan masih ada 0,47% yang percaya pada mimpi sebagai sumber informasi,” jelasnya.

Dwi Handayani mengakui, sistem evakuasi bencana Merapi merupakan hal kompleks dan dinamis. Perlu pemecahan masalah dengan menganalisa dinamika sistem tersebut. Di antaranya dengan mempelajari pola tingkah laku yang dibangkitkan sistem, seiring bertambahnya waktu.

Sistem tingkah laku masyarakat yang muncul dari struktur kebijaksanaan dan lainnya. Dijelaskan, masyarakat dikatakan siapsiaga bencana bila memenuhi tiga fase yakni fase rasionalitas termasuk dalam memilih sumber informasi, memilih kendaraan, persuasi dan lainnya.

Kemudian fase pemahaman jalur bagaimana ketika posisi gelap, panik dan sejenisnya, hanya orang tertentu yang bisa paham. Yang ketiga adalah adaptivitas. Ditambah dengan atribut usia, jenis kelaminan, kerentanan, kepemimpinan akan dihasilkan 5 tipe perilaku masyarakat dalam menghadapi bencana Merapi. Mulai dari offical leader, cultural leader, kelompok rentan, kelompok masyarakat siapsiaga bencana (prepared community member) dan masyarakat tidak siapsiaga bencana(unprepared community member.

Ada beberapa fase dapat dilakukan masyarakat dalam usahanya meningkatkan persentase masyarakat yang tergolong siaga. Dengan memahami pelbagai hal mulai dari sumber informasi, evakuasi, kesiapsiagaan dan lainnya tersebut, dari hasil penelitian ini kami lanjut Dwi Handayani, mengusulkan skenario terbaik untuk meminimalkan kurban.

"Dalam fase pertama untuk memutuskan evakuasi atau tidak, perlu melakukan kesadaran melakukan evakuasi dini, meningkatkan performasi media informasi dengan menambah lini media komunikasi terpercaya dan terupdate yang dapat diakses seluruh warga, mengurangi delay dan mengurangi keinginan masyarakat kembali ke rumah," ungkapnya.

Pada fase kedua yang merupakan fase kesiapan kendaraan dengan meningkatkan persentase kepemilikan kendaraan dan menambah kapasitas kendaraan pribadi, meningkatkan persentase dan kapasitas kendaraan bantuan serta menjadwal dan mengkoordinir kendaraan bantuan jauh-jauh hari sebelum evaluasi massal. Sehingga delay akibat pencarian penduduk dapat diminimalisir.

"Pada fase ketiga atau jalur evakuasi ini adalah meningkatkan kapasitas jalan dan memberikan edukasi secara intensif kepada masyarakat," jelasnya. (Fsy)