Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 30 Januari 2019 / 13:42 WIB

Bahana TCW Konservatif Sikapi Pasar 2019

JAKARTA, KRJOGJA.com - Perusahaan asset management plat merah, Bahana TCW Investment Management (BTIM) akan bersikap konservatif dalam menargetkan pertumbuhan dana kelolaan pada tahun 2019, di tengah meredanya fluktuasi pasar finansial negara berkembang sejak awal tahun ini.
 
Hal ini diungkapkan Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management Edward Lubis dalam pertemuan dengan media pada tema “Surfing The Market Pendulum”, pada hari Selasa (29/1).
 
Edward menyatakan, kondisi pasar finansial Indonesia tahun 2019 masih harus menghadapi tantangan sepanjang triwulan satu dan triwulan dua tahun ini. Saat ini, ungkap Edward, arus modal asing mulai kembali masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini didorong adanya sentimen global yang meragukan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat tahun ini, terlihat dari suku bunga obligasi AS yang turun. Di samping itu, harga minyak dunia yang turun turut mendongkrak Rupiah kembali menguat terhadap Dollar sejak triwulan akhir 2018. 
 
“Pasar finansial Indonesia memang jauh lebih baik dibandingkan tahun 2018 lalu. Namun, ada persepsi investor yang masih enggan untuk menempatkan investasi di pasar saham dan obligasi karena menunggu perkembangan pasar. Perlu waktu untuk membangun optimisme investor kembali. Sehingga Bahana memproyeksikan pertumbuhan yang konservatif pada tahun ini,” jelas Edward.
 
Senada dengan hal ini, Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonom BTIM Budi Hikmat menyatakan, walaupun menghargai respon kebijakan pemerintah namun fundamental ekonomi Indonesia masih belum sepenuhnya aman dari sentimen global. Penguatan pasar finansial saat ini masih ditopang dari modal asing yang masuk dan juga penurunan harga minyak. 
 
Sementara indikator penguatan daya beli belum meyakinkan. Neraca dagang yang anjlok pada tahun lalu cenderung menekan pertumbuhan daya beli yang terkonfirmasi melaui perlambatan pertumbuhan uang M1. 
 
"Dengan penurunan harga minyak bumi yang lebih dalam ketimbang harga CPO, batu-bara dan karet, membuat perbaikan sejauh ini ibarat tidak perlu merogoh kocek lebih dalam. Namun isi dompet belum bertambah. Itu sebabnya Pemerintah harus memacu perbaikan struktur perdagangan internasional untuk memacu ekspor produk manufaktur dan barang jadi bukan komoditas primer yang booming cycle sudah usai,” tegas Budi. 
Karena itu, anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini menargetkan total dana kelolaan di tahun 2019 sebesar Rp 50 triliun, atau naik sekitar 4-5% dibandingkan tahun 2018. Sementara, akhir tahun 2018 lalu, total dana kelolaan aset management cenderung flat dari sejak awal tahun 2018 lalu.  Sepanjang 2018 lalu, Bahana telah meluncurkan 28 produk reksa dana baru, meliputi 26 produk reksa dana terproteksi, 1 reksa dana pendapatan tetap, dan 1 reksa dana pasar uang. (*)