Peristiwa Editor : Ivan Aditya Senin, 28 Januari 2019 / 16:50 WIB

Muslimat NU Siap Perangi Hoax

JAKARTA, KRJOGJA.com - Putri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid memastikan ibu-ibu Muslimat NU bakal sangat militan ikut memerangi hoax, fitnah dan ujaran kebencian. Momen peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-73 Muslimat NU di Gelora Bung Karno (GBK) menjadi momentum untuk mendeklarasikan ‘Laskar Muslimat NU Anti-hoax dan Ujaran Kebencian’ yang beranggotakan seluruh anggota Muslimat.

“Mereka pasti bergerak. Ibu-ibu Muslimat itu sangat militan. Mereka bisa bergerak ke mana-mana. Bisa menembus berbagai lapisan masyarakat. Majelis taklim mereka dalam seminggu bisa beberapa kali melakukan kegiatan. Jangkauan mereka sampai ke desa-desa,” kata Yenny Wahid, Ketua Panitia Harlah ke-73 Muslimat NU melalui rilis pada KRJOGJA.com, Senin (28/01/2019).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad  SAW dan Harlah ke-73 Muslimat NU yang digelar di GBK, pada Minggu (27/01/2019) kemarin, dihadiri Presiden Jokowi dan Ibu Iriana, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj, Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa, para kiai dan ulama, serta beberapa menteri Kabinet Kerja. Salah satu acara adalah deklarasi ‘Laskar Muslimat NU Anti-hoax dan Ujaran Kebencian’.

Yenny mengaku tak bisa menutupi kesedihan saat melihat maraknya informasi hoax dan ujaran kebencian di media sosial (medsos) menjelang Pilpres 2019. Menurut dia, fenomena tersebut sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara-negara lain.

“Kalau di negara lain, misalnya kebencian terhadap imigran. Kalau di AS kebencian terhadap ras tertentu. Nah kalau di Indonesia kebalikan, bentuknya phobia terhadap non-muslim. Sebenarnya bukan phobia, tetapi sebuah isu yang dijadikan alat politik,” kata putri kedua Gus Dur ini.

Pesoalan yang kemudian muncul, menurut dia adalah karena banyak masyarakat yang termakan dan menjadi korban informasi hoax dan ujaran kebencian. Hal ini dilihat Yenny sebagai sebuah agenda setting dengan maksud dan tujuan tertentu.

“Sebabnya ini (hoax dan ujaran kebencian) memang dikondisikan. Ini sekarang dunia global, siapa yang menguasai informasi, dia mempunyai kekuatan. Masyarakat tidak sadar bahwa perferensinya dibentuk oleh orang yang menyebarkan informasi karena dia menelan mentah-mentah informasinya,” sambung dia.

Masyarakat yang menjadi korban karena seolah-olah dibombardir dengan iklan yang bukan iklan suatu produk barang namun iklan tentang isu politik. “Kalau iklan barang kita bisa menimbang-nimbang harga atau kualitas. Sementara iklan politik menjadi susah karena melibatkan emosi. Orang menjadi tidak rasional, apalagi yang dipakai isu agama di Indonesia,” ungkapnya lagi.

Latarbelakang inilah yang kemudian membuat Muslimat NU bergerak dan menyerukan pada seluruh anggota di Indonesia untuk ikut berperan menangkal hoax dan ujaran kebencian. Peringatan Harlah Muslimat  ke-73 kemarin pun dijadikan momentum melawan hoax serta ujaran kebencian.

“Jangan salah ya, ibu-ibu Muslimat itu canggih-canggih. Mereka mayoritas aktif di media sosial. Kita ingin memberdayakan perempuan-perempuan Muslimat NU agar lebih menyadari bahaya hoax dan fitnah. Kemudian mau melakukan sesuatu untuk memastiakn hoax tidak tersebar ke tengah masyarakat,” pungkasnya. (Fxh)