Gaya Hidup Agregasi    Sabtu, 26 Januari 2019 / 14:35 WIB

Catat! Balita Dilarang Pegang Smartphone, Ini Alasannya

KECANGGIHAN teknologi di abad ke-21 menimbulkan beragam dampak mulai positif hingga negatif. Salah satu efek yang paling menonjol, yakni pemandangan anak di bawah umur menggenggam handphone canggih saat pergi ke sekolah hingga pelesiran ke pusat perbelanjaan alias mall.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi menilai, pemberian gadget terhadap para anak usia dini adalah keputusan keliru dari para orangtua di zaman serba canggih saat ini. Sebab, mereka belum pantas menerima perangkat elektronik yang bisa membuatnya berselancar tanpa batas di dunia maya.

"Kalau toh untuk tahap awal, HP sekadar untuk komunikasi saja. HP untuk telefon aja. Tidak usah yang terlalu canggih," kata pria yang karib disapa Kak Seto itu kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Kak Seto mengakui, jika di era teknologi maju seperti sekarang, tak bisa menghindarkan anak-anak untuk tidak menggunakan gadget. Namun, sebaiknya penggunaan gadget itu dilakukan di bawah pengawasan orangtua.

Bicara ihwal teknologi, tentu Bill Gates paling tahu apa yang baik dan yang tidak. Bos komputer kelas dunia itu punya tiga orang anak yang beranjak remaja. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi, pastinya dia tahu betul kapan usia terbaik memberikan gadget kepada sang buah hati.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone, founding Microsoft itu menyatakan, gadget baru bisa diberikan kepada anak ketika mereka menginjak usia 14 tahun. Namun, menurut Kak Seto penggunaan ponsel secara pribadi sebaiknya diberikan kepada anak yang sudah berumur 16 tahun.

Meski sudah diberikan kepada sang buah hati lanjut Kak Seto, orangtua wajib mengeceknya dalam sebulan sekali. Sehingga, mengetahui apa yang dilakukan mereka selama memegang gadget.

Masih menurut Kak Seto, penggunaan internet tanpa adanya kontrol dari orangtua malah akan menimbulkan dampak negatif alias mudarat ketimbang manfaatnya.

Banyak anak yang terjebak pada kenakalan remaja akibat terlalu bebas meniru hal apapun di media sosial (medsos).

"Unsur negatif yang masuk-masuk, ya anak menjadi liar, anak menjadi pemberontak, anak menjadi pelaku narkoba, merokok, seks bebas atau mengikuti geng motor. Karena semua itu bisa dimasukkan melalui gadget," ujarnya. (*)