Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 22 Januari 2019 / 15:24 WIB

Gula Rafinasi Masih Terus Diminati, Ini Pemicunya

JAKARTA, KRJOGJA.com-  Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan oleh gula lokal. Hal ini dikarenakan  suplainya yang tidak teratur ada, serta harga murah, membuat pengusaha makanan dan minuman, termasuk dodol,  memilih gula impor. 

Ada tiga alasan gula rafinasi dari impor sulit digantikan gula lokal bagi industri mamin, yakni pertama gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri dan kuman, yang masih menempel di gula. Alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia dari Januari sampai Desember serta, harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp 2.000 per kilogramnya dibandingkan gula rafinasi.

“Pengusaha makanan dan minuman kelas kecil dan menengah pun masih amat membutuhkan impor gula rafinasi bagi keberlangsungan usaha mereka,” kata Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah, Agro Suyono, di Jakarta , Selasa (22/1).

Dikatakan  gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan makanan akan cepat kedaluwarsa.
Jika menggunakan gula lokal, saat makanan diekspor, misalnya dodol ke Timur Tengah, makanan seperti dodol, akan berjamur dan kedaluwarsa karena adanya bakteri tersebut. Pasalnya, perjalanan ke Abu Dhabi saja bisa mencapai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan tersebut lebih cepat berkembang. 

“Kita biasa ekspor dodol itu ke Abu Dhabi sampai disana pasti jamuran kalau pakai gula lokal, karena di perjalanan bisa 20 hari, dengan kondisi kontainer panas. Jadi, memang gula lokal tidak cocok untuk dodol,” ungkapnya.

Menurutnya, jika menggunakan gula impor, dodol bisa bertahan hingga satu tahun. Dikarenakan tidak adanya molasis dalam kandungan gula. 
Dipaparkan,  alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia dari Januari sampai Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia.

Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, ditegaskannya, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha anti produk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula rafinasi. industri, terutama UMKM dihadapkan pada dilema harga gula impor yang lebih murah dan lebih berkualitas. 

“Kami siap beli gula dalam negeri kalau kualitasnya sudah sama dengan rafinasi,” jelasnya. 

Sementara itu, peneliti muda Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman mengungkapkan, menekan tingginya angka impor gula bukan pekerjaan yang mudah. Ini mengingat konsumsi dalam negeri sangatlah tinggi. Pemangkasan impor gula hanya dapat dilakukan apabila produksi gula dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik. 

Dikatakan, jika produksi gula dalam negeri mampu memenuhi atau setidaknya mendekati angka kebutuhan, kebijakan impor gula dipastikan dapat ditekan. Namun untuk saat ini, jika impor gula terus ditekan, imbasnya akan membuat harga gula di pasaran melambung.

"Pada akhirnya, konsumen dan unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan menanggung kerugian," tandasnya.
Banyak kalangan juga mengkritisi, dengan  usia mesin lebih dari 100 tahun, akan muskil mungkin pabrik gula BUMN bisa menghasilkan gula berkualitas sesuai kebutuhan  kebutuhan  oleh industri mamin. Bahkan, untuk konsumsi pun "dipertanyakan" atau perlu dicek kembali dampak pada kesehatan manusia

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan mengamini, beberapa industri memang membutuhkan impor gula sebagai bahan baku untuk produksinya. Contohnya industri makanan dan minuman (mamin) yang memerlukan gula dengan ICUMSA rendah serta industri kesehatan yang membutuhkan gula khusus. 

Khusus untuk industri mamin, ia mengakui, keperluan memakai gula impor lebih dikarenakan harganya yang lebih terjangkau. Di samping itu, gula impor yang memiliki tingkat ICUMSA di kisaran 45 membuat tampilan makanan dan minuman jauh lebih baik.  (Lmg)