DIY Editor : Agus Sigit Selasa, 22 Januari 2019 / 10:42 WIB

DIIMBAU MENYERAHKAN DIRI

Polisi Kantongi Profil Pelaku Pelemparan Batu Suporter

SLEMAN, KRJOGJA.com - Polisi berusaha mengungkap pelaku pelemparan batu yang menewaskan salah satu suporter bernama Muhammad Asadulloh Alkhoiri (20), secepatnya. Pelaku diimbau agar segera menyerahkan diri karena kepolisian juga sudah mengantongi profil mereka.

Hal itu disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Dr Hadi Utomo SH MH, saat ditemui media di Mapolda DIY, Senin (21/1). Kombes Pol Hadi juga menyesalkan peristiwa yang menyebabkan tewasnya salah satu suporter, Sabtu (19/1) lalu. 

Jajaran kepolisian telah melakukan pengamanan semaksimal mungkin selama persiapan hingga pertandingan. Namun, faktanya masih ada oknum yang melakukan penganiayaan dengan melempar batu hingga menghilangkan nyawa orang. "Hal ini menjadi perkara menonjol bagi kami selaku penegak hukum. Anggota sudah melakukan penyelidikan dan mengumpulkan alat bukti. Kami juga sudah melakukan 'profiling', kira-kira siapa yang patut diduga sebagai pelaku. 

Kombes Pol Hadi Utomo mengungkapkan, kelompok pelaku bukan berasal dari tim suporter yang berlaga, Sabtu lalu. Sedangkan korban merupakan penggemar tim PSS Sleman yang berasal dari Klaten. Kemudian ada sekelompok orang dari arah timur dan melempar batu ke arah korban. "Kalau mau main kucing-kucingan silakan. Kami akan lakukan tindakan tegas terukur dan sesuai Undang-undang yang berlaku, karena kejadian ini sudah terjadi beberapa kali," tambahnya.

Usai aksi pelemparan batu, Kombes Pol Hadi juga telah mengecek langsung ke lokasi kejadian dan bertanya kepada salah satu pedagang di dekat kejadian dan memastikan bila pelaku sempat mengambil batu di sekitar lokasi. 

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto mengatakan, aksi melukai orang lain ini bukan hanya sekadar karena rasa fanatisme terhadap tim bola. Aksi ini bisa dilihat dari kacamata teori massa yang menyebabkan orang berbuat tidak bertanggungjawab karena kontrol sosial lemah. Menurut Suprapto, dalam sebuah kelompok massa, seseorang juga bisa jauh lebih berani melakukan tindakan anarkhis, jika tidak ada mekanisme kontrol yang kuat saat pertandingan. (R-2)