Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Senin, 21 Januari 2019 / 00:31 WIB

Dibanding Pilpres 2014, KPU Klaim Debat Perdana Lebih Baik

JAKARTA, KRJOGJA.com – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengklaim, debat Pilpres putaran pertama lebih hidup dibanding pada Pilpres 2014 lalu. ‎Menurut Wahyu, dalam debat perdana kemarin sudah ada dialektika antar dua paslon capres-cawapres.

“Dalam beberapa pencapaian, kita merasa dibandingkan dengan debat 2014 ‎yang lalu, ini lebih hidup. Ini diakui oleh banyak pihak. Karena debatnya itu di ronde awal sudah debat,” kata Wahyu dalam keterangannya, Minggu (20/1/2019) malam.

Kendati demikian, Wahyu mengakui masih banyak kekurangan pada debat perdana Pilpres 2019. Itu diakuinya setelah KPU melakukan evaluasi serta adanya kritik pasca-debat perdana digelar.

“Hasil evaluasi kami, kami menyadari bahwa debat pertama belum sepenuhnya, artinya sudah ada yang terpenuhi tapi tidak sepenuhnya harapan publik itu terpenuhi,” ucapnya.

Wahyu mengatakan, pihaknya terbuka jika ada kritikan-kritikan pada proses debat perdana. ‎Sejauh ini, pihaknya telah menerima berbagai masukan untuk nantinya dijadikan acuan pada debat kedua.

“Kami KPU akan melakukan evaluasi dan ini sudah kami lakukan setiap debat. Jadi debat pertama kita evaluasi untuk ebat kedua, debat kedua pun kita evaluasi untuk debat ketiga. ‎Demikian seterusnya,” jelasnya.

Debat Pilpres 2019 putaran kedua sendiri rencananya akan digelar pada 17 Februari 2019, mendatang. Debat kedua yang mengangkat temaenergi, pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup hanya akan diikuti dua pasang capres yakni Jokowi dan Prabowo.

Wahyu juga menuturkan, ada perubahan dalam debat pilpres 2019 putaran kedua dengan tidak lagi memberikan kisi-kisi. Hal ini dilakukan agar kedua pasangan calon menjawab secara spontan.

“Kisi-kisi tidak akan kami berikan dalam debat kandidat selanjutnya,” kata Wahyu.

Karena itu, Wahyu meminta masyarakat dalam menilai debat harus bisa membedakan soal pelaksanaan terkait penyelenggara dan performa pasangan calon.

Jika debat perdana disebut tidak menarik karena kisi-kisi dari KPU, dikatakan Wahyu, maka dalam debat selanjutnya diharapkan ada perubahan.

“Jika ternyata setelah seperti itu (tanpa kisi-kisi) paslon tidak dapat menjelaskan gagasan-gagasan untuk lima tahun ke depan, maka kritiknya harus berbeda,” ucapnya.

Dia berharap, jika debat selanjutnya masih belum maksimal apa yang disampaikan paslon tentu yang bermasalah bukanlah KPU sebagai penggelenggara.

“Kalau paslon yang performanya kurang baik, maka kritiknya jangan kepada KPU,” jelasnya.(*)