DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 20 Januari 2019 / 20:11 WIB

Rawan Longsor, Translok di Imogiri Dipasangi EWS

BANTUL, KRJOGJA.com - Pemasangan alat pendeteksi tanah longsor atau  Early Warning System (EWS)  dilakukan di kawasan Translok RT 06 Pedukukuhan Mojolegi, Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul, pada Minggu (20/1/2019). Pemasangan EWS di lokasi itu dengan pertimbangan tingkat kepadatan penduduk sementara ketinggian tebing mencapai 50 meter lebih. Selain itu bukit ini tercatat pernah longsor pada akhir November 2017. Program pemasangan EWS yang diberi nama 'Si Mbantul' ini digagas oleh Yosep Heru Priyanto bersama Komunitas Trooper Nusantara bersama relawan.

Heru mengatakan, jiwanya tergerak memasang EWS senilai Rp 40 juta itu dengan pertimbangan rasa kemanusiaan. Karena di Translok cukup padat dihuni warga, sementara dengan ketinggian tebing diatas 50 meter sangat rawan terjadinya tanah longsor.  

Selain memasang EWS Si Mbantul, Heru dan kawan kawan juga menjelaskan sistem alat canggih itu kepada warga. "Alat deteksi longsor Si Mbantul ini untuk mereka secara gratis semua, kami yang memasangkan semua  untuk kepentingan warga di sini. Oleh karena itu,  warga harus  mengetahui cara kerja dan bagaimana merawatnya," ujar Heru.

Heru bersama komunitas Tropper  Nusantara dan relawan sebelumnya juga memasang alat deteksi pererakan tanah di Desa Muntuk dan Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul.  Namun pemasangan  dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sejauh ini untuk pemasangan di luar Bantul sudah lebih dari 50 EWS.

Dijelaskan, deteksi tanah longsor yang sudah  dipasang di 3  lokasi itu hampir sama.  Khusus di Muntuk dan Mangunan Dlingo ESW bisa dipantau melalui telepon selular. "Sementara EWS di  translok ini dipantau secara manual, tetapi sistem kerjanya sama," ujar Heru. 

Sementara untuk sistem kerjanya alat dipasang di atas bukit dengan dua tiang. Untuk tiang pertama yang berada di atas bukit merupakan alat deteksi pergeseran tanah, tiang dibawah bukit merupakan tempat mesin dan sensor. Kedua tiang dihubungkan sling atau tali yang bisa mendeteksi tanah setiap satu sentimeter lewat rotari. Jika terjadi  pergerakan tanah, otomatis akan segera diterjemahkan melalui sensor dan seketika akan mengeluarkan sirine sebagai peringatan.

EWS juga dilengkapi lampu tembak otomatis fungsinya untuk memantau jika terjadi pergerakan tanah malam hari. Sedang kebutuhan daya listrik, EWS sudah  dilengkapi panel surya berkapasitas 12 ampere dan tingkat konsumsi 0,5 watt. Bahkan uji coba yang dilakukan pukul 15.30,  sudah berhasil dan sirine meraung raung di Dukuh Karangrejek, Karangtengah, Imogiri.  

Purwandi, warga sekitar mengungkapkan, longsor tebing menjadi salah satu potensi bencana paling nyata di wilayahnya. Oleh  Karena itu, Desa Karangtengah telah membentuk relawan sampai melaksanakan pelatihan kebencanaan.  

Sebagaimana diketahui, translok merupakan pemukiman transmigran lokal. Terdapat  136 Kepala Keluarga (KK) di translok yang masuk Dusun Karangrejek dan Mojolegi, Karangtengah Imogiri.   Translok mulai dibangun tahun  2004 lalu, mereka menempati lahan Sultan Ground (SG).  Sementara Widodo, salah satu  warga bersyukur pemasangan EWS  sudah dilakukan.  Selama ini belum ada alat deteksi pergerakan tanah.(Roy)