Peristiwa Editor : Ivan Aditya Sabtu, 19 Januari 2019 / 20:16 WIB

BI Nilai Bunga Pinjaman Masih Wajar

JAKARTA, KRJOGJA.com - Bank Indonesia (BI) menilai tingkat bunga pinjaman atau deposito yang dipasang masing-masing perbankan nasional saat ini masih wajar. Meski, mereka sudah mencium ada aroma perang bunga deposito di industri perbankan lantaran mengetatnya likuiditas.

Gubernur BI Perry Warjiyo tidak ingin membenarkan anggapan ini, meski tak pula membantah. Ia hanya menekan bahwa yang terjadi saat ini bank cenderung mengerek bunga deposito lebih cepat dan tinggi ketimbang bunga kredit.

Namun, hal ini masih terbilang wajar karena bunga deposito memang dianggap sebagai indikator yang paling mudah terpengaruh begitu bank sentral nasional mengubah tingkat bunga acuannya (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR).

Tahun lalu, BI menaikkan tingkat bunga acuannya sebanyak enam kali mencapai 175 basis poin (bps) dari semula 4,25 persen menjadi 6 persen. Sementara data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat kenaikan bunga deposito bank mencapai 88 bps untuk simpanan berdenominasi rupiah dan 66 bps untuk valuta asing (valas) sepanjang tahun lalu.

"Kenapa demikian? Karena memang funding (penghimpunan dana) dari perbankan itu kan ritel, makanya kalau suku bunga BI naik, suku bunga pasar uang naik, ritel funding bank harus naik," ujarnya.

Lebih lanjut, Perry menilai kenaikan bunga deposito juga terjadi karena sumber penghimpunan dana bank di luar simpanan masyarakat ikut menjadi mahal. Misalnya, di pasar modal dan surat utang. Hal ini tak lepas dari pengaruh kebijakan normalisasi moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve.

Pasalnya, kenaikan bunga acuan The Fed sukses membuat aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia jadi seret. "Aliran modal asing bukannya masuk, malah keluar. Aliran keluar artinya ada pengurangan likuiditas, itu jadi penyebab," jelasnya. (*)