DIY Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 19 Januari 2019 / 03:10 WIB

Krisis Regenerasi Petani, Bantul Punya Solusi

BANTUL, KRJOGJA.com - Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan  (Disperpautkan) Kabupaten Bantul terus mendorong  agar generasi muda  sekarang  tertarik menggeluti sektor pertanian.   Terbosan tersebut sebagai langkah kongrit pemerintah Bantul dalam  dalam menyelesaikan persoalan regenerasi petani.  Sejauh ini ada indikasi jika pertanian belum sepenuhnya dilirik generasi milenial  sebagai penopang masa depan.  

"Taruna tani di Kabupaten Bantul ini tahun 2013 dirintis, lima tahun kemudian atau awal 2019  hampir semua kecamatan di Bantul atau di 13 kecamatan ada taruna tani," ujar Disperpautkan Bantul, Ir Pulung Haryadi di MSc, Jumat (18/1/2019).

Dijelaskan, Taruna Tani tersebut dibentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Setelah itu  dilakukan melalui pendampingan dari dinas, tujuanya menarik minat pemuda mau menggeluti bidang pertanian. 

"Gejala itu (sulitnya regenerasi petani) saya lihat sudah sejak tahun 2012, sudah kita amati betul, makanya kemudian kita membentuk program taruna tani, ini terus kita dorong keberadaannya hingga saat ini," katanya.  

Pulung mengungkapkan,  kendati telah terbentuk di 13 kecamatan di Bantul, tetapi kelembagaannya masih berada di tingkat desa disetiap kecamatan. Artinya Taruna Tani itu belum menjangkau pemuda/pemudi di seluruh kecamatan.

Oleh karena itu, dinas  berusaha mendorong Gapoktan agar segera  membentuk Taruna Tani. “Bagi desa yang belum  ada Taruna Taninya Gapoktan kami minta untuk membentuk , nanti pemerintah daerah akan memfasilitasi termasuk program pendampingan,” ujarnya.   

Menuruntnya, sejauh ini dalam satu kecamatan Taruna Tani masih terbatas di satu desa tertentu. Sementara  jumlah  desa totalnya mencapai semua 75. “Bantul ini ada 17 kecamatan dan 75 desa,  kami optimis jangka  panjangnya dimasing-masing desa ada Taruna Tani," jelasnya. 

Sementara itu dalam program pembentukan Taruna Tani itu tanpa kendala. “Kemauan pemuda saat ini tergolong kurang, selain itu dari aspek penghasilan sektor pertanian dinilai belum menjanjikan karena sempitnya lahan,” ujarnya.  Oleh karena itu dinas berusaha agar pemuda diarahkan pada 'off farm' atau fokus dalam olahan pertanian.  Sementara itu di 'on farm' dengan alat mesin pertanian, sehingga pengelolaannya kedepannya bisa dilakukan para pemuda.(Roy)