Jateng Editor : Agus Sigit Jumat, 18 Januari 2019 / 15:46 WIB

Hujan Deras 2 Hari, Jembatan Kedungsono Terancam

SUKOHARJO, KRjogja.com - Hujan deras dalam dua hari terakhir membuat sebuah pondasi pagar rumah milik warga di Dukuh Badran, Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu ambrol. Kejadian tersebut mengancam jembatan mengingat pondasi pagar ambrol menimpa talut pengaman dan menyebabkan akses warga nyaris terputus.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Jumat (18/1) mengatakan, kondisi cuaca sekarang sedang masuk puncak musim hujan. Intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Kondisi tersebut bersampak pada ambrolnya pondasi rumah warga di Badran, Kedungsono, Bulu, Kamis (17/1) sore. Dalam kejadian tersebut ambrolnya pondasi mengenai talut pengaman jembatan dan menyebabkan kerusakan.

Namun kondisi jembatan tidak sampai menyebabkan kerusakan parah dan masih bisa dilintasi warga baik pejalan kaki dan sepeda motor. Meski begitu BPBD Sukoharjo meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada saat melintasi jembatan.

Kewaspadaan juga dilakukan harus dilakukan mengingat debit air meningkat dan arus deras. Kondisi tersebut membuat pondasi jembatan rawan ambrol susulan karena tergerus arus air.

"Kondisi jembatan masih bisa dilintasi namun masyarakat tetap kami minta waspada karena kondisi cuaca ekstrim," ujarnya.

BPBD Sukoharjo terus melakukan pemantauan terhadap kondisi jembatan dan pondasi rumah warga yang ambrol. Petugas juga melakukan pengamanan dengan memasang karung pasir untuk menahan agar tidak terjadi ambrol susulan.

"Perbaikan memang harus dilakukan secara permanen agar kondisi talut dan jembatan aman. Namun itu kemungkinan baru bisa dilakukan menunggu kondisi sungai aman dan arus reda," lanjutnya.

Petugas dari tim gabungan sudah disebar ke sejumlah wilayah rawan untuk memantau khususnya banjir disepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Hal itu dilakukan mengingat sekarang curah hujan semakin meningkat. Akibat kondisi tersebut debit air di Sungai Bengawan Solo mengalami kenaikan signifikan. Meski begitu sampai sekarang belum ditemukan kasus banjir di Sukoharjo.

Petugas juga melakukan penyisiran terhadap kondisi tanggul dan pintu air disemua wilayah. Hasilnya ditemukan semua masih dalam kondisi normal dan tidak ada temuan kerusakan yang berakibat bahaya bagi masyarakat.

"Untuk deteksi banjir kami masih mengandalkan alat sistm peringatan dini di bawah Jembatan Bacem, Telukan, Grogol. Alat itu terus kami pantau agar jangan rusak supaya bisa membantu dalam memberikan peringatan dini pada masyarakat apabila rawan banjir maka bisa langsung mengungsi," ujarnya.

BPBD Sukoharjo dalam pemantauan di wilayah rawan bencana alam khususnya banjir juga ditemukan kondisi kesiapsiagaan dari masyarakat. Hal itu ditunjukan dengan adanya persiapan mengungsikan barang atau benda berharga ke tempat lebih tinggi dan tidak terkena banjir. Selain itu juga kesiapan masyarakat dengan mencari titik kumpul atau evakuasi saat banjir terjadi. 

Beberapa tempat siap dijadikan lokasi evakuasi bagi korban bencana alam banjir seperti di balai desa, kantor kecamatan, tanggul dan lainnya. Masyarakat sudah paham dan hafal situasi sehingga bisa melakukan penanganan saat bencana alam terjadi. (Mam)