DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 18 Januari 2019 / 02:46 WIB

DIUSULKAN MODEL BARU MAKROEKONOMI

Sektor Sosial, Entitas Penting dalam Ekonomi

SLEMAN, KRJOGJA.com - Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran untuk menilai prestasi eknomi sebuah bangsa atau negara. Kendati mengandung beberapa kekurangan/kelemahan, hingga kini pendapatan nasional (biasa dilambangkan huruf Y) tetap merupakan ukuran yang paling lazim digunakan.

Demikian dikatakan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Dumairy saat mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji dalam ujian terbuka promosi doktor dalam Ilmu Agama dan Lintas Budaya (Kajian Timur Tengah) di Auditorium Lt.5 Gedung Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Jalan Teknika Utara, Pogung Sleman, Kamis (17/1/2019). Disertasinya berjudul 'Model Teoretis Makroekonomi Islami, Pendekatan Biduktif dalam Perhitungan Pendapatan Nasional'. Selaku Promotor Prof Dr Syamsul Hadi dan Ko-Promotor Dr Muhammad. Dumairy dinyatakan lulus dengan predikat 'Sangat Memuaskan'.

Menurut Dumairy, untuk menghitung pendapatan nasional terdapat tiga macam pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendapatan dan pengeluaran. Dalam pendekatan pengeluaran, pendapatan nasional = pengeluaran sektor rumah tangga (lambang C) + pengeluaran sektor bisnis (lambang I) dan pengeluaran sektor pemerintah (G). "Jika tanpa memperhatikan ekspor dan impor maka perhitungan pendapatan nasional rumusnya Y=C+I+G," ujarnya.

Model dasar makroekonomi seperti di atas menurut Dumairy kurang realistis karena mengabaikan sumangsih ekonomi segmen masyarakat tertentu yaitu organisasi-organisasi sosial dan lembaga-lembaga nirlaba (orsolanila). Padahal di setiap negara terdapat sangat banyak orsolanila, di desa maupun di kota, di kawasan pesisir pantai maupun lereng gunung, di daerah pedalaman maupun di tengah keramaian "Di samping modelnya sendiri kurang realistis, asumsi yang melandasi dibangunnya model konvensional itu tidak islami," tuturnya.

Berbekal konsep ekonomika islami, disertasi ini menawarkan sebuh model baru yang islami dan lebih realistis. Dijelaskan Dumairy, di dalam model baru yang diusulkan ini terdapat tambahan satu entitas pelaku ekonomi dalam negeri yaitu sektor sosial (lambang A). Dengan tambahan sektor sosial ini, model dasar makroekonomi yang baru menjadi Y=C+I+G+A. Entitas pelaku ekonomi di dalam negeri tidak lagi hanya tiga tetapi empat sektor. "Model baru yang diusulkan ini bukan hanya sesuai untuk negara Islam dan negara Muslim, tapi juga negara-negara pada umumnya," pungkasnya. (Dev)