Jateng Editor : Danar Widiyanto Kamis, 17 Januari 2019 / 10:30 WIB

Keracunan Massal di Karanganyar, ‘Oglangan’ Berujung Petaka

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menanggung seluruh biaya berobat korban keracunan massal yang dirawat di sejumlah rumah sakit dan klinik di Colomadu. Para korban juga menerima tali asih.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyerahkan secara simbolis tali asih dengan besaran Rp 350 ribu untuk pasien rawat jalan, Rp 500 ribu untuk pasien rawat inap dan Rp 250 ribu untuk korban. Tercatat, sebanyak 60 tamu undangan hajatan mantu di Dusun Klegen RT 2 RW 8 Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, keracunan makanan pada Minggu (13/1/2019). Dari jumlah tersebut, 19 orang menjalani rawat inap, 23 orang rawat jalan dan 18 orang kondisinya sudah membaik sebelum ditangani secara medis. Juliyatmono mengaku prihatin atas musibah itu, sekaligus bersyukur seluruh tamu masih tertolong.

“Kami ikut prihatin. Yang penting semua sudah ditangani, tidak usah saling menyalahkan. Saling memaafkan. Mesakke sing duwe gawe. Kepada Pak Sugino, tidak usah ndredhek (ketakutan) terus. Kabeh wis dingapuro, tidak ada unsur kesengajaan. Ndilalah yang masak kan gotong royong, bukan katering. Ini (uang) fitrah. Silakan dibuat jajan,” katanya.

Seluruh korban keracunan yang sudah sembuh, dikumpulkan di rumah tuan rumah hajatan, Sugino. Dibantu petugas Bagian Kesra dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), Juliyatmono membagikannya bersama Wakil Bupati Rober Christanto.

Camat Colomadu, Yopi Eko Jatiwibowo mengatakan masih tersisa empat korban dirawat inap. Sedangkan lainnya telah beraktivitas seperti biasa. Ia mengapresiasi langkah cepat seluruh instansi dalam penanganan korban.  

Ditemui usai acara, Sugino menuturkan, peristiwa itu diduga buntut dari matinya aliran listrik pada Sabtu sore, setelah hujan badai terjadi di kawasan Colomadu. Saat itu, listrik sempat padam hingga sekitar lima jam. 

“Padahal di kulkas, disimpan daging dan beberapa bahan makanan yang akan dimasak untuk acara hari Minggu,” tuturnya. 

Sempat muncul rencana dari warga yang rewangan, agar daging dan bahan makanan di kulkas dimasak pada Sabtu malam, karena khawatir akan rusak jika disimpan di lemari pendingan dalam kondisi listrik mati. 

Namun rencana tersebut urung dilakukan, karena listrik tidak kunjung hidup dan tidak memungkinkan aktivitas memasak dilakukan dalam keadaan gelap. 

Sugino mengaku lega dan bersyukur, peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Meskipun masih ada rasa trauma akibat kejadian ngunduh mantu anak pertamanya tersebut. (Lim)