Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Rabu, 16 Januari 2019 / 17:10 WIB

Biometrik Diberlakukan, PPIU Alami Kerugiaan Sekitar Rp 30 M

JAKARTA, KRJOGJA.com - Sejak diberlakukannya rekam biometrik sebagai persyaratan mengurus visa bagi calon jamaah umrah oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia per 17 Desember 2018 lalu, terindikasi banyak calon jamaah yang kesulitan mendapatkan visa dikarenakan sulitnya akses menuju kantor Visa Facilitation Services (VFS) Tasheel guna melakukan rekam biometrik yang lokasinya sangat jauh dari domisili calon jamaah.

Akibatnya, kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Permusyawaratan Antarsyarikat Travel Haji dan Umrah Indonesia (PATUHI) Muharom Ahmad, hal itu berdampak pada pemberangkatan calon jamaah sehingga harus tertunda dari jadwal yang sudah diatur oleh Panitia Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). "Dengan tertundanya keberangkatan jamaah, secara otomatis, tiket penerbangan yang seyogyanya untuk pemberangkatan dan pemulangan jamaah jadi hangus," tuturnya di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Kenyataan itu, menurut Muharom, mau tidak mau menjadi tanggung jawab penyelenggara karena sudah melakukan booking seat pada maskapai yang akan digunakan. Tak hanya itu, akomodasi hotel tempat jamaah menginap di Saudi Arabia baik Mekkah atau Madinah juga hangus jika jamaah tidak datang tepat pada waktunya. Untuk itu ia memperkirakan, sejak diberlakukannya rekam biometrik, para PPIU telah mengalami kerugian hingga Rp30 miliar. 

Jumlah tersebut berasal dari proses yang memakan waktu lama dan pengunduran waktu terbang hingga booking hotel jamaah selama di Saudi Arabia. "Jika diperhitungkan harga tiket perjamaah itu dikisaran Rp12-13 juta, ditambah biaya hotel yang hangus pada dua malam pertama dari tanggal booking Rp2 juta, maka rata-rata PPIU mengalami kerugian Rp15 juta per jamaah. Jika dikalikan 2.000 jamaah, maka sudah mencapai Rp30 miliar," terang Muharom.

Anggota Dewan Pembina PATUHI Joko Asmoro menambahkan, jika kebijakan ini tetap diberlakukan, tentunya akan sangat menyulitkan calon jamaah. "Yang ada dari kami, daripada terus merugi dan jamaah kesulitan, kami akan menghentikan pemberangkatan ibadah para calon jamaah agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Inilah sebagai bentuk dan rasa prihatin kami serta tanggung jawab moral kepada calon jamaah Indonesia," tegasnya.

Menurut Joko, biasanya para PPIU ini telah mengatur dan menyiapkan jadwal akomodasi baik penerbangan, hotel dan katering sampai akhir program penyelenggaraan ibadah umrah di bukan Syawal setiap tahunnya. Jadi, dengan kejadian ini, sekarang harus dibatalkan semua hingga sebulan ke depan. Sebab, Kalau tidak, risikonya sangat besar dan hal ini telah sampaikan langsung kepada Kepala Kamar Dagang Kota Mekkah di Saudi Arabia. (Ful)