Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 16 Januari 2019 / 19:09 WIB

Revitalisasi Pabrik Gula Masih Setengah Hati

JAKARTA, KRJOGJA.com -  Harga gula lokal lebih tinggi dari harga gula mentah dunia. Pada November 2018 lalu harga gula lokal tiga kali lipat dibandingkan dengan harga gula dunia yakni mencapai Rp 12.163 per kg, sementara rata-rata harga gula mentah dunia hanya Rp 4.000.

Tingginya harga lokal ini dikarenakan, mesin-mesin pabrik gula berumur ratusan tahun (100-187 tahun) masih mendominasi hingga 59,7 persen , dan perubahan peruntukan lahan pertanian masih menjadi kendala

“Pabrik gula tua yang rata-rata didapati di pabrik gula BUMN membuat produksi gula tidak hanya menjadi terbatas. Karena tak efisien, harga gula dari pabrik-pabrik tua tersebut menjadi 3—4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gula impor,” kata Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir di Jakarta, Rabu (15/1).

Akibatnya, ketergantungan Indonesia akan impor gula tak terelakkan karena  untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat karena tidak dapat dipenuhi oleh industri gula dalam negeri. 
Sementara pemerintah yang tak kunjung melakukan revitalisasi industri gula secara komprehensif. 

“Yang tua itu kan pabrik-pabrik gula BUMN. Revitalisasi pabrik juga kelihatan setengah hati. Cuma revitalisasi di bagian apa, terus di bagian apa. Harusnya revitalisasi menyeluruh,” ujarnya.

Soal revitalisasi menyeluruh ini pun, Revrisond berpandangan, sulit terjadi. Pasalnya, investor akan cenderung ragu melihat produksi tebu nasional yang dipandang tidak akan mencukupi kebutuhan pabrik gula sendiri. 
“Selama ini kan lahan tebu itu masih bercampur-campur. Jarang yang lahan tebu doang tanpa ditanami apa-apa lagi,” paparnya.

Namun, perluasan lahan pun menjadi mustahil dilakukan. Melihat dari kecenderungan Kementerian Pertanian yang mengabaikan  masalah produksi tebu nasional ini.

Berdasarkan data Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tebu 2015-2017, lahan perkebunan tebu dalam periode 2008-2017 tak banyak mengalami perubahan. Pada periode tersebut, luas rata-rata mencapai 454.782 hektare, dengan luasan tertinggi pada 2014 yakni 478.108 hektare dan luasan terendah pada 2009 seluas 441.440 hektare. Dari luasan tersebut, rata-rata produksi pada periode yang sama adalah 246 juta ton. 

Sebelumnya Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),Inas N Zubir, mengatakan , masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah terkait peningkatan produksi gula nasional. Serta  pemerintah terkesan lamban dalam hal revitalisasi ini.
 

“Pabrik gula itu harus dibongkar dan dibangun ulang dengan mesin yang modern. Karena sudah terlampau tua,” katanya.

Inas melanjutkan, tak hanya umur pabrik gula yang menjadi masalah minimnya produksi gula dalam negeri. Menurutnya, sejauh ini, pemerintah tak mampu menjaga kestabilan produksi tebu para petani.

“Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah senaknya saja merubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain,” tambahnya.   ( Lmg)