Jateng Editor : Agus Sigit Minggu, 13 Januari 2019 / 03:19 WIB

HARAPAN BARU PENDERITA STROKE

RSST Buka Layanan Spesialis Bedah Syaraf

KLATEN, KRJOGJA.com - Dengan menerapkan konsep Green Hospital, Rumah Sakit Umum dr Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten terus meningkatkan pelayanan secara paripurna, berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit.

Dirut RSST dr Endang Widyaswati MKes di sela acara HUT ke - 91 RSST, Sabtu (12/1) mengemukakan, beberapa kegiatan kesehatan lingkungan, sudah terpenuhi. “Ijin IPAL sudah, Proper lingkungan sudah, sosialsisasi pada lingkungan juga sudah. Efisiensi listrik dan air yang menurut saya belum maksimal, dan kami upayakan terus. Dua itu harus kami tekan lagi,” kata dr Endang Widyaswati.

Biaya tertinggi penggunaan listrik di RSST mencapai Rp 52 juta setiap bulan. Hal ini menuntut perlunya efisensi, dengan melakukan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh karyawan, dan semua pihak yang berkepentingan di RSST. “Umpanya pemakaian AC pengaturan suhu cukup sekitar 24 - 25 derajat kan sudah nyaman. Lampu kalau tidak perlu harus dimatikan,” tambahnya.

Gedung-gedung baru di RSST sudah berkonsep green hospital, cahaya langsung masuk ke dalam gedung, sehingga tidak banyak memerlukan penerangan lampu listrik. Sehubugna hal itu, pada siang hari lampu-lampu dimatikan, kecuali pada ruang-ruang tertentu di bagian dalam. Kaca- kaca gedung didesain dengan filter sinar ultra violet.

Layanan unggulan RSST antara lain juga sebagai rumah sakit ramah Lansia. Dalam puncak acara HUT RSST juga mengudnang sekitar 200 lansia. Diantara mereka memberikan testimoni kenyaman layanan yang mereka dapatkan di RSST.

RSST juga memberikan layanan prima untuk penderita stroke. Saat ini telah memiliki dua dokter spesialis bedah syaraf. Layanan ini merupakan yang pertama untuk rumah sakit di wilayah Kabupaten Klaten Klaten. Setiap bulan rata-rata 40 pasien bisa tertangani. Bukan hanya dari local Klaten, melainkan juga daer daerah sekitar.

Puncak acara HUT ke - 91 RSST diisi dengan senam bersama, jalan sehat, pemberian penghargaan, menanam pohon sumbangan dari para karyawan, direksi dan dewan pengawas.

Selain itu juga dilakukan fun game sebagai bentuk capacity building. Yakni agar dalam bekerja karyawan tidak sekedar menyelesaikan pekerjaan sendiri, tetapi juga harus peduli pada pekerjaan temanya. Dengan demikian pekerjaan bisa diselesaikan secara komprehensif dalam waktu cepat.

Semua kegiatan HUT tidak dianggarkan khusus oleh rumah sakit, tetapi ditopang bersama seluruh karyawan.(Sit)