Jateng Editor : Agus Sigit Sabtu, 12 Januari 2019 / 19:27 WIB

Dicabut, Ijin Perusahaan Garam Kapasitas 200 Ribu Ton

PATI KR Jogja Com - Bupati Pati, H Haryanto SH MM MSi mendadak memerintahkan kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu ((DPMPTSP) untuk mencabut ijin usaha perluasahan garam impor di Juwana. Perusahaan tersebut disebut-sebut mengimpor garam dari Australia hingga 200.000 ton per tahun. Sehingga dikhawatirkan mengganggu industri garam tradisional di Pati.

"Kalau DPMPTSP mau mengeluarkan ijin, harusnya konsultasi dulu. Jangan asal teken (red - tandatangan) tetapi malah menyusahkan petani garam tradisional" kata bupati Pati, Jumat (11/1).

"Ijin usaha mendatangkan garam impor di Juwana, harus segera dicabut" tambah bupati H Haryanto.

Pernyataan bupati H Haryanto SH tersebut, langsung mendapat dukungan dari kalangan warga Pati. Kawasan pantai kabupaten Pati, seperti wilayah kecamatan Batangan, Juwana, Wedarijaksa dan Trangkil merupakan kawasan pusat produksi garam rakyat.

Berdasar data di pemkab Pati, dari produksi garam tahun 2018,  masih tersisa  sebanyak 133,199,30 ton, yang tersimpan 3.330 gudang. Yakni berada di Kecamatan Batangan di 7 desa,  Juwana 4 desa, Wedarijaksa (3 desa), dan Kecamatan Trangkil di lima desa.

Namun petani tradisional di Pati saat ini  harus gigit jari, karena mendadak Pati dibanjiri garam impor dari Australia. Keberadaan  sebuah perusahaan tersebut dianggap ''membunuh''  para petani usaha garam rakyat. 

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu ((DPMPTSP)  Pati, H Sugiyono SIP ketika dikonfirmasi wartawan, mengakui adanya ijin usaha garam impor yang berlokasi di Juwana. "Ada ijin   perluasan usaha impor garam 3.050 ton ke 200.000 ton yang dikeluarkan 23 Februari 2018 lalu" ujarnya.

"Namun ijin tersebut akan dicabut" ucap H Sugiyono.

Diharapkan lagi, pihak perusahaan importir juga mau menampung produksi garam rakyat di Pati. ( Cuk ).