Jateng Editor : Agus Sigit Sabtu, 12 Januari 2019 / 18:22 WIB

Lantamal V Kembangkan Budidaya Ikan Sidat

CILACAP, KRJOGJA.com - Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama nelayan yang bermukim dan di sepanjang pantai Selatan Jawa, Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V kini berupaya mengembangkan budi daya ikan sidat. Program tersebut dinamakan "Sidat Wangi" yang mulai dikembangkan di Cilacap Jawa Tengah, Banyuwangi, dan dilanjutkan di Jember serta Tulung Agung Jawa Timur.

"Untuk Cilacap telah tersedia 10 kolam dengan kapasitas 1000 ekor sidat, untuk pembesaran dari benih, fingerling, hingga siap dipanen,"ujar Komandan Pangkalan Utama TNI AL V, Laksamana Pertama TNI Edwin SH M Han, di sela peresmian kolam ikan sidat RE Martadinata dan Taman Bacaan serta Bermain Adhika Jala Persada, Kebonmanis, Cilacap Utara, Jumat (10/01/2019).

Menurutnya, keberadaan budi daya ikan sidat di Cilacap itu akan ditingkat menjadi tempat pelatihan, sehingga masyarakat berlatih dan mengembangkan sendiri untuk menambah pendapatan nelayan. "Jadi awalnya kolam itu berada pada ruang tertutup, kemudian nanti dikembangkan ke ruang terbuka,"lanjutnya. 

Dijelaskan, ikan sidat memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, karena sebagian besar dari hail budi daya itu itu diekspor ke Jepang, dengan harga ikan sidat pada eksportir mencapai Rp 250 ribu per kg. Data terakhir yang diperoleh dari asosiasi, menunjukan Jepang membutuhkan ikan sidat sebanyak 100 ton per bulan. "Itu hanya untuk negara Jepang belum untuk kebutuhan negara Korea. Sehingga perkiraan kebutuhan ikan sidat untuk Jepang dan Korea, mencapai 1.200 ton per tahun,"katanya.

Komandan Pangalan AL (Danlanal) Cilacap, Kolonel Laut (P) Teguh Iman Wibowo mengatakan, kolam budidaya ikan Sidat itu berada di komplek rumah dinas AL Kebonmanis, Cilacap dan keberadaannya merupakan kerjasama Lanal Cilacap dengan PT S2P pemilik PLTU Karangkandri, Cilacap dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility)nya. 

Sedang Kepala Dinas Perikanan Cilacap Sujito mengatakan, saat ini, jika di Cilacap terdapat sekitar 800 nelayan penangkap ikan sidat dengan 13 kelompok pembudidayanya. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan, dengan terbesar ada di Kecamatan Kedungreja.

Dikatakan, sampai saat ini, dalam budi daya ikan sidat masih mengandalkan hasil tangkapan benih di alam, sehingga akan dibuatkan suatu regulasi agar budi daya ikan sidat tetap berkelanjutan. Dalam ketentuannya, setiap pembudidaya memiliki kewajiban melepas kembali ke alam sebesar 10 persen dari hasil budi daya ikan sidatnya, sehingga ikan sidat akan terhindar dari kepunahan.

Disamping itu, Kementerian  Balai Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun Balai Penelitian Pemijahan Ikan Sidat di Bali. Diharapkan dari balai tersebut akan bisa menghasilkan bibit ikan sidat, sehingga para pembudidaya ikan sidat tidak ketergantungan dari perkembangbiakan alam.(Otu)