Jateng Editor : Ivan Aditya Sabtu, 12 Januari 2019 / 09:11 WIB

TACB Minta Pemilik Tambang Jaga Benteng Pendem

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Purworejo meminta pemilik tambang lokasi ditemukannya benteng pendem di Desa Bapangsari Kecamatan Bagelen, untuk menjaga situs peninggalan Jepang itu. PT Sekawan Bayu Perkasa (SBP) adalah pemilik lahan sekaligus pemegang izin tambang andesit di lokasi penemuan benteng.

Ketua TACB Purworejo Eko Riyanto mengatakan, sangat mungkin benteng pendem ditemukan di perbukitan Desa Bapangsari. "Menilik sejarahnya, dulu tentara Jepang membangun kawasan pertahanan di Bukit Menoreh Bapangsari dan sekitarnya. Sekarang sudah ditemukan di Kalimaro Bapangsari dan Tlogokotes," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (11/01/2018).

Eko menduga masih ada benteng yang ditemukan. Namun hingga sekarang belum diketahui secara jelas dimana lokasi benteng tersebut.

Menurutnya, benteng tersebut berada di tanah pribadi milik warga maupun perusahaan. Namun pemerintah tetap memiliki kewajiban melindungi dan menginventarisasi mengingat setiap benda cagar budaya dilindungi undang-undang yang kuat. "Soal tanah tetap itu milik pribadi, ada transaksi jual beli, juga berizin, maka silakan saja dimanfaatkan. Namun kami ingatkan pengusaha atau pemilik untuk menjaga, tidak menghancurkan atau memindah benteng itu," tegasnya.

Penemuan itu juga ditindaklanjuti dengan penelitian awal oleh arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, bersama TACB Purworejo dan Dinparbud Purworejo. Tim melakukan pengamatan dan pengukuran benda cagar budaya itu.

Pengkaji Pelestari Cagar Budaya BPCB Jateng Wahyu Broto Raharjo mengemukakan, peninjauan dilakukan untuk mengentahui secara persis benteng tersebut. Setelah mengamati, BPCB membuat kesimpulan awal bahwa benteng pertahanan itu adalah buatan tentara Jepang sekitar tahun 1942 hingga 1943.

"Diduga kuat bangunan sejenis masih tersebar di wilayah tersebut, hanya saja tidak diketahui keberadaannya karena tertimbun tanah. Menurut catatan sejarah, benteng dibangun untuk pertahanan dan pelatihan perang parit tentara Jepang," terangnya.

Pihak BPCB meminta penguasa lahan untuk membantu melestarikan bangunan tersebut. Kawasan sekitar penemuan dengan radius 5 - 20 meter juga harus disterilkan untuk mencegah kerusakan cagar budaya.

Ketika dikonfirmasi tim, humas PT SBP Teguh mengaku siap membantu dan akan ikut menjaga situs tersebut. "Kami tetap ikut menjaganya," tandasnya. (Jas)