DIY Editor : Ivan Aditya Jumat, 11 Januari 2019 / 15:10 WIB

Sekolah Dituntut Teliti Isi Data

YOGYA, KRJOGJA.com - Kesuksesan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tidak bisa dipisahkan dengan kecermatan pengisian pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS). Pengisian data ini harus dilakukan dengan cermat dan benar sehingga siswa tidak boleh salah dalam proses pengisiannya. Guna mewujudkan hal itu, selain menyiapkan petugas khusus untuk mendampingi sekolah juga melakukan sosialisasi langsung kepada siswa.

”Guna mengurangi tingkat kesalahan dalam pengisian PDSS. Kami melakukan sosialisasi tata cara dan tata kelola proses pengisian ke PDSS sebagai langkah awal pendaftaran SNMPTN kepada siswa. Sosialisasi ini dilakukan kepada siswa dan juga orangtua, dengan nara sumber dari perguruan tinggi yang akan menerima siswa melalui jalur tersebut,” kata Kepala SMAN 8 Yogyakarta, Rudy Prakanto MEng.

Rudy mengungkapkan, dalam pengisian PDSS SMAN 8 Yogya, sengaja melakukan pendampingan yang dilakukan oleh Guru Bimbingan Konseling dan tim IT. Sehingga ketepatan pengisian dan pemilihan jurusan dapat lebih pasti.

Adapun untuk kendala yang dihadapi adalah adanya kebimbangan siswa dalam memilih jurusan atau program studi di PTN. Sehingga mereka cenderung belum siap untuk segera mengisikan data secara lengkap pada PDSS tersebut.

”Adanya kuota SNMPTN yang hanya 20 persen cenderung merugikan. Karena secara riil potensi siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi di sekolah sangat banyak,” ujarnya.

Terpisah Kepala SMAN 6 Yogyakarta Drs Munjit Nur Alamsyah MA menjelaskan, dalam hal pendaftaran SNMPTN pihaknya tidak menemukan kendala. Semua berjalan dengan baik. Adapun untuk kuota yang hanya 20% menurutnya sudah melalui kajian kebenaran yang mendalam. Kajian dari kualitas nilai semester sebagai dasar seleksi SNMPTN.

Sementara Kepala SMA Taman Madya Perguruan Tamansiswa Cabang Jetis Yogyakarta Ermayanti MPd menyatakan saat ini sekolahnya tengah menginput data. Tidak ada masalah. Tetapi kuota yang hanya 20% menurutnya merugikan. (Ria/War)