DIY Editor : Ivan Aditya Jumat, 11 Januari 2019 / 11:32 WIB

5 SMA/SMK di Gunungkidul Ditetapkan Sekolah Siaga Bencana

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Dengan banyaknya bencana alam baik longsor, banjir dan gelombang tinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan mengedukasi dan mitigasi kebencanaan pada anak-anak sekolah.

Edukasi dan mitigasi sangat diperlukan sebagai dasar pembekalan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Sesuai rencana pada 2019 ini akan dibentuk sekolah siaga bencana di Gunungkidul.

“Tidak hanya menyasar di daerah pelosok dan rawan kejadian, namun sekolah kebencanaan juga akan dibentuk di kota Wonosari,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Drs Edy Basuki MSi.

Sesuai arahan Pemerintah Pusat telah ditegaskan jika kebencanaan tidak masuk dalam mata pelajaran sekolah, tetapi akan dilakukan penguatan pengetahuan melalui pemahaman ilmu, teknik dan simulasi. Hal ini sangat perlu diterapkan mengingat kondisi geografis yang ada termasuk di Kabupaten Gunungkidul cukup rawan terjadinya bencana alam.

Melihat kondisi daerah Gunungkidul yang berada di daerah pegunungan dan memiliki garis pantai yang cukup panjang tentu ada kekhawatiran tersendiri mengenai bencana alam tersebut. Terbukti beberapa tahun ini mulai dari tanah longsor, banjir, hingga gelombang tinggi juga melanda wilayah Gunungkidul.

“Hal semacam ini sangat penting sebagai dasar pengetahuan dan langkah yang harus diambil saat menghadapi suatu bencana,” imbuhnya.

Dijelaskan, tahun lalu sudah ada pembentukan sekolah kebencanaan untuk 3 sekolah. Sesuai rencana untuk tahun 2019 juga akan diperluas lagi untuk pada 5 SMA di Gunungkidul. Dalam waktu dekat ini sekolah kebencanaan akan diterapkan di SMA Rongkop, SMK 1 Gedangsari, SMK Tepus, MAN Wonosari, dan SMK Girisubo.

Sekolah-sekolah ini dianggap penting, sebenarnya tidak hanya SMA/SMK saja, juga ada beberapa SMP atau SD juga perlu diberikan pemahaman mengenai kebencanaan. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga atau melalui Balai Dikmen juga akan dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya korban atau hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kepekaan dan tanggap mengenai kondisi atau karakter lingkungan sangatlah dibutuhkan dalam menghadapi terjadinya bencana alam,” ucapnya. (Bmp)