DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 10 Januari 2019 / 18:37 WIB

Gantung Diri Kembali Marak, Badingah Angkat Bicara

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Maraknya kasus bunuh diri dalam satu minggu terjadi 4 kasus membuat Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos prihatin, dan berharap kepada jajarannya termasuk masyarakat melakukan tindakan untuk menanggulangi terjadinya kasus tersebut. Dalam tindakan penanggulangan dan pencegahan bunuh diri diharapkan tidak hanya sebatas gagasan atau ide semata, tetapi perlu tindakan nyata(action).

“Semua pihak harus mempunyai komitmen dalam menanggulangi bunuh diri, tidak hanya pemkab saja tetapi juga masyarakat,” katanya.

Tindakan nyata dalam penanggulangan bunuh diri sangat diperlukan dan bersifat krusial. Pasalnya selama ini gantung diri menjadi fenomena yang hampir setiap bulan terjadi. Bahkan bunuh diri dengan cara gantung diri seolah menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan perkara atau kondisi yang tengah dihadapi oleh seseorang.

Tindakan nyata sangat dibutuhkan untuk melakukan pencegahan aksi gantung diri, tidak hanya pemerintah namun masyarakat juga harus bergerak dan berperan aktif, karena deteksi dini yang paling dekat dengan seseorang yang berpotensi melakukan bunuh diri adalah masyarakat. Ia mengimbau kepada masyarakat jika menemukan keluarga atau tetangga yang mengalami depresi untuk tidak ditinggal sendirian.

Setidaknya harus mendapat pengawasan, atau juga bisa diberikan perawatan di Puskesmas atau RSUD Wonosari. “Selama ini bunuh diri terjadi akibat korban mengalami depresi, karena sakit hingga putus asa,” imbuhnya.

Adanya Satgas Berani Hidup yang telah dibentuk pemerintah daerah sejak beberapa tahun silam harus lebih digalakkan dalam menangani kasus ini. Bupati menilai jika Satgas ini masih belum mampu menangkal terjadinya kasus bunuh diri.

Komitmen menekan atau mengantisipasi bunuh diri harus lebih dikuatkan lagi. Semua lembaga dan kalangan tentunya memiliki peran penting.

Melihat dan mengenali karakteristik dan kondisi masyarakat di lingkungan Badingah berharap agar tidak terjadi lagi. Pemerintah tidak bisa setiap hari melakukan pemantauan atau pendekatan, maka dari itu masyarakat juga diminta untuk bergerak, karena yang mengetahui kondisi nyata di lapangan. (Bmp/Ded)