DIY Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 09 Januari 2019 / 15:26 WIB

Gerakan Sekolah Menyenangkan Turunkan Angka 'Bullying'


SLEMAN, KRJOGJA.com - Puluhan kepala sekolah dan guru se-Kecamatan Jayanti Kabupaten Tangerang mengunjungi dua SD Negeri di Sleman yang tergabung di sekolah model Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), yakni SDN Karangmloko 2 dan SD N Ngebelgede 2 Sleman, Rabu (9/1/2019). 

Para guru melihat langsung suasana kelas, keceriaan dan karakter siswa serta dukungan orangtua dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, aman dan menyenangkan di dua sekolah dasar tersebut. 

Nuansa berbeda dijumpai saat sekolah model GSM memaparkan tentang sekolahnya. Mereka (para guru sekolah model) tidak menyampaikan prestasi akademik maupun akreditasi, melainkan strategi penciptaan ekosistem, program pengelolaan perilaku (karakter) hingga metode pembelajaran yang membuat anak betah belajar di sekolah karena termotivasi dan percaya diri dengan masa depannya.

Pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal PhD mengatakan, di sekolah model GSM, pengajarannya selalu menyelipkan konsep bermain,  karena dalam 'play' atau permainan, otak anak akan tenang dan tidak panik, oksigen optimal menuju otak sehingga anak fokus sekaligus 'joyful' dalam belajar. Ketika pulang dari sekolah, anak tidak dibebani dengan Pekerjaan Rumah (PR) yang banyak.

"Bahkan ketika masuk kembali ke sekolah setelah libur, murid diminta menceritakan pengalaman selama liburan di kelas. Hal ini dapat memberikan ruang lebih luas bagi anak untuk bereksplorasi, berefleksi, bersosialisasi hingga bercengkerama dengan keluarga di rumah," terang Nur Rizal kepada KRJOGJA.com disela kegiatan di SDN Karangmloko 2 Ngaglik Sleman.

Menurut Nur Rizal, suasana belajar yang jauh dari kesan sekedar menggugurkan kewajiban atau tuntutan kurikulum akan menghidupkan rasa empati warga sekolah dan menurunnya angka bullying atau kekerasan. Kondisi ini akan membuat murid lebih berani membangun talenta atau potensi yang dimilikinya. Selain itu murid percaya diri mengabstraksikan pengetahuan yang dimilikinya dengan persoalan nyata. (Dev)