DIY Editor : Agus Sigit Selasa, 08 Januari 2019 / 18:34 WIB

Fapet UGM Kembangkan Tanaman Pakan Chicory

YOGYA, KRJOGJA.com - Untuk mendukung peternakan ruminansia (sapi, kerbau, kambing, dan domba), tanaman hijauan pakan ternak adalah keharusan. Indonesia memiliki potensi lahan khususnya di luar Jawa untuk padang penggembalaan. Manajemen padang rumput dengan jenis rumput yang unggul dan produktif akan menopang keberhasilan usaha peternakan ruminansia.

Chicory merupakan jenis forbs, yaitu tanaman pakan herbaceous (bukan kayu) berdaun lebar dan tidak seperti rumput sehingga tidak termasuk kategori rumput maupun legum. Jenis tanaman ini banyak terdapat pada ladang penggembalaan, dapat hidup 2 tahun atau lebih. Beberapa mendominasi ladang penggembalaan. Tanaman ini penting untuk meningkatkan produktifitas ladang penggembalaan. Di negara asalnya, New Zealand, tanaman Chicory merupakan tanaman andalan bagi ternak sapi perah maupun domba di padang penggembalaan.

Sejak 2015, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menjalin kerja sama dengan industri pengembang rumput dan legum Cropmark Seed Company New Zealand. Cropmark Seed Company adalah salah satu industri eksportir biji rumput dan legum terkemuka di seluruh dunia.

Pada awalnya, Fapet UGM melaksanakan uji coba pada lebih dari 30 jenis rumput dan legum dari Cropmark New Zealand untuk dievaluasi potensi pengembangannya di Indonesia. Dari hasil studi awal, ditemukan 3 jenis yang sangat potensial dan adaptif dengan kondisi agroekologi Indonesia. Salah satunya adalah tanaman forbs Chicory.

Fapet UGM sangat optimis bahwa tanaman Chicory Intibus mampu menjadi pakan unggul di Indonesia. Riset yang dilakukan Fapet UGM dan Cropmark Seed Company New Zealand menunjukkan bahwa produksi Chicory di Indonesia lebih besar 2—3 kali lipat dibandingkan dengan produksi di negara asalnya, New Zealand.

“Kami melaksanakan riset untuk mengembangkan tanaman tersebut di Indonesia. Chicory mampu beradaptasi dengan baik di sini dengan kandungan protein kasar yang tinggi (25.5% BK) dan serat kasar yang rendah (26,0% BK). Dibandingkan dengan tanaman pakan legum yang umum dibudidayakan di Indonesia, kandungan nutriennya jauh lebih baik. Ini menjadi keunggulan utama dari tanaman Chicory,” ujar Dekan Fapet UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU, ketika dihubungi Selasa (8/12).

Dekan menambahkan, Chicory yang ditanam di kebun rumput Fapet UGM dapat menghasilkan produksi segar sebanyak 55 ton/hektar pada umur potong 30 hari dengan kadar air sekitar 18%. Pada musim kering (Agustus 2017 – Februari 2018), Chicory dapat menghasilkan produksi hijauan sebanyak 27,5 ton/hektar setiap kali panen. Jika panen dilakukan setiap bulan, maka produksi Chicory pada musim kering dapat mencapai 330 ton/hektar/tahun atau sekitar 60 ton bahan kering/hektar/tahun.

“Produksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Chicory yang ditanam di New Zealand dengan bahan kering berkisar 8 – 19% dengan protein kasar 20 – 26 % dan kandungan serat kasar 20 – 30%. Di New Zealand, produksi bahan kering yang dihasilkan sebanyak 8--16  ton/hektar/tahun,” jelas Dekan. Hal ini berarti bahwa produksinya 3 sampai 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan di negara asalnya. Kesuburan lahan di Jawa menjadi salah satu faktor pendukung produktivitas yang tinggi.

Selain Dekan, tim peneliti yang terdiri atas Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., Dr. Ir. Bambang Suhartanto, DEA, Slamet Widodo, S.Pt, Dr. Tim Cookson, dan Brian Thorrington yang berasal dari pihak Cropmark Seed CompanyNew Zealand menyatakan bahwa Chicory sangat cocok dikembangkan di Indonesia dan yakin akan mampu menyumbang kemajuan pakan ternak Indonesia. (*)