Kisah Inspiratif Editor : Danar Widiyanto Minggu, 06 Januari 2019 / 16:55 WIB

Nada, Anak Buruh Serabutan Berhasil Jadi Polwan

YONGKY SINDHU CAHYONO (40) tidak menyangka, anak sulungnya Fransisca Nada Prajna Paramita (18) bisa menjadi polisi wanita (polwan). Awalnya ia dan istrinya Roberta Erni Sugiyanti (40) membayangkan berapa rupiah biaya yang akan dikeluarkan untuk mewujudkan cita-cita itu. Nyatanya pemikiran itu terbantahkan ketika Nada berhasil diterima sebagai siswa Dituk Bintara Polwan 47 di Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) di Jakarta Selatan.  

Yongky mengaku mendengar banyak rumor tentang pendidikan di kepolisian. "Saya dengan cerita tetangga, katanya biayanya jutaan rupiah, sehingga sempat bayangkan bagaimana mungkin kami yang tidak mampu secara ekonomi ini bisa memenuhinya. Tetapi pikiran itu tidak disampaikan kepada Nada karena khawatir mengurangi semangatnya," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Minggu (6/1/2019). 

Awalnya, mantan pedagang nasi goreng yang kini bekerja sebagai buruh serabutan itu tidak mengetahui proses pendaftaran Nada menjadi anggota Polri pada Agustus 2018. Keluarga tahu ketika Nada meminta uang untuk membeli 41 materai untuk proses administrasi pendaftaran.  

Keluarga yang tinggal di rumah kontrakan RT 04 RW 01 Kelurahan Pangen Juru Tengah itu menyisihkan sebagian modal berjualan nasi goreng untuk biaya wira-wiri Nada mengikuti seleksi. Namun setelah modal habis dan gerobak nasi goreng dijual, ia terpaksa utang kepada bank harian. "Setelah tidak jualan, saya kerja sebagai buruh memasak di beberapa rumah makan. Itupun kalau ada yang memanggil, kalau tidak kerja serabutan lainnya," terangnya. 

Yongky berusaha keras memenuhi kebutuhan itu sambil terus memompa semangat anaknya. Yongky tenang karena melihat proses seleksi polwan yang dilaksanakan secara transparan. Nama calon pendaftar ditampilkan dalam tabel yang bersifat 'realtime'. "Setiap proses seleksi dari Polres hingga di Polda Jateng, nama-nama ditampilkan di layar, semua bisa melihat. Rangking bergerak terus, saya lihat nama Nada bisa naik hingga lolos," tuturnya. 

Pria tersebut kemudian percaya bahwa tidak butuh biaya macam-macam untuk mengantarkan Nada hingga lolos pendidikan polwan. "Prinsip saya, dengan usaha dan semangat, bisa mengantar Nada jadi polisi. Ternyata memang benar, tidak ada biaya lain-lain seperti dikatakan orang-orang," ucapnya. 

Yongky tenang karena Nada sudah lima bulan menjalani pendidikan dan akan diwisuda Maret 2019. "Saya tidak punya impian muluk-muluk, yang penting Nada bisa konsentrasi penuh menyelesaikan pendidikannya. Kami ingin Nada bisa memotivasi dua adiknya, Yohana dan Gibran," tegasnya. 

Terpisah, Fransisca Nada saat libur pendidikan, mengaku senang akhirnya bisa menjadi calon polwan. Polisi adalah cita-citanya sejak kecil yang pernah disampaikan kepada orang tuanya saat SMP. "Saya termotivasi, berusaha maksimal saat seleksi, sehingga bisa jadi polwan. Saya ingin membahagiakan orang tua sekaligus mengangkat nama keluarga," ungkap alumni SMA 1 Purworejo itu.  

Sementara itu, Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong SIK SH MM mengemukakan, rekrutmen anggota Polri dilakukan secara terbuka, transparan, akuntabel dan humanis. "Apapun agama, golongan, etnis dan kondisi ekonominya, silakan daftar Polri. Kalau memang memiliki prestasi, pasti bisa, buktinya pada Fransisca Nada," terangnya. 

Tidak hanya memberi dukungan, sejumlah anggota Polres Purworejo juga mengumpulkan sumbangan untuk membantu Fransisca Nada. Mereka berdonasi dan rencananya akan dikirimkan untuk tabungan Nada selama menjalani masa pendidikan.(Jas)