Gaya Hidup Agregasi    Minggu, 06 Januari 2019 / 01:17 WIB

Program Bayi Tabung Makin Terjangkau, Berapa Biayanya?

PROGRAM bayi tabung menjadi salah satu pilihan bagi pasangan suami istri dengan gangguan kesuburan. Sayangnya, biaya yang dipatok tidak terjangkau bagi sebagian pasangan program bayi tabung menjawab permasalahan gangguan kesuburan yang diderita pasangan suami istri (pasutri).

Tidak dipungkiri, teknologi canggih yang diaplikasikan pada program bayi tabung berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan pasutri guna mendapatkan keturunan.

Berangkat dari fakta ini, PT Ingin Anak (PTIA) menyediakan suatu program yang Sophisticated , Modern, Affordable, Reproductive, dan Technology atau SMART IVF, yang menyediakan layanan bayi tabung berbiaya terjangkau di Indonesia.

Bakal Jadi Besan, Intip Adu Penampilan Maia Estianty dan Reza Artamevia
Dr Fachry Achmad MPH selaku Direktur PTIA mengatakan, program bayi tabung menjadi salah satu pilihan bagi pasutri yang mengalami gangguan kesuburan dan ingin mempunyai keturunan. Sayangnya, biaya program ini bagi sebagian pasutri kurang terjangkau.

“SMART IVF berangkat dari penemuan serangkaian prosedur pelayanan bayi tabung yang tidak hanya mutakhir, tetapi juga cost-effective bagi pasien serta ditunjang fasilitas berteknologi tinggi dan berkualitas,” kata dr Fachry.

Dibandingkan kebutuhan masyarakat, jumlah klinik IVF sampai saat ini masih rendah, yaitu 32 klinik, yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Hadirnya program bayi tabung pintar SMART IVF diharapkan menjadi salah satu pilihan dan membantu mereka yang membutuhkan.


Prof Dr dr Budi Wiweko SpOG(K) MPH selaku pendiri SMART IVF sekaligus Presiden Perhimpunan Fertilisasi in Vitro Indonesia (Perfitri) mengemukakan, berdasarkan laporan IA-IVF tahun 2017, dari sejumlah 9.122 siklus bayi tabung yang dilakukan pada 2017 di Indonesia, terdapat 2.467 siklus yang menghasilkan kehamilan.

Persentase kehamilan yang terbesar terdapat pada usia < 35 tahun, yaitu 17,46%, disusul kehamilan pada usia 35-37 tahun (6,01%), usia 38-40 tahun (3,49%), usia 41-42 tahun (1,16%), dan terendah usia > 42 tahun (1%).

“Program bayi tabung pintar atau SMART IVF memiliki beberapa keunggulan yang diperlukan dalam klinik bayi tabung, seperti SDM dengan kompetensi tinggi, teknologi dan metode IVF terdepan, laboratorium penunjang seperti laboratorium embriologi, serta jaringan kerja yang luas,” ungkap dr Budi. Diketahui dengan program tersebut, biaya yang dikeluarkan pasien berkisar Rp39 Juta. Hal tersebut terhitung lebih terjangkau daripada program bayi tabung konvensional.

Dalam penjelasan tentang gangguan kesuburan, dr Beeleonie BMedSc SpOG(K) mengatakan, gangguan kesuburan merupakan kegagalan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual yang benar selama satu tahun tanpa memakai alat kontrasepsi.

Faktor suami istri atau kombinasi keduanya dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Termasuk faktor istri adalah gangguan pematangan sel telur, sumbatan saluran telur, atau gangguan pada rahim dan indung telur. “Sedangkan, yang termasuk faktor pria adalah masalah sperma,” ujarnya.

Berbagai penyebab infertilitas di kalangan pekerja sama dengan yang lainnya. Hanya, pada kalangan perempuan pekerja terjadi prioritizing, sering kali karier dan pendidikan diutamakan sehingga baru merencanakan kehamilan saat usia lebih tua.

Pada kalangan perempuan, mengutamakan karier rentan menjadi gangguan fertilitas yang berkaitan dengan berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur yang dimiliki. “Inilah yang dikenal dengan konsep cadangan ovarium yang erat kaitannya dengan usia biologis,” kata dr Beeleonie.

Usia biologis merupakan refleksi dari kuantitas dan kualitas sel telur seorang perempuan yang berkaitan dengan fekunditas, yaitu kemampuan reproduksi untuk memperoleh kehamilan. Sementara usia kronologis merupakan usia yang dihitung berdasarkan tanggal lahir seseorang.

Di samping penuaan reproduksi yang alamiah, usia biologis dan kronologis tidak selalu sama. Sering didapatkan usia biologis lebih cepat menua dibandingkan usia kronologis seseorang. Penurunan ini dipengaruhi berbagai hal, misalnya genetik, penyakit tertentu, riwayat radiasi dan kemoterapi, paparan zat kimia, dan gaya hidup. (*)