Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 03 Januari 2019 / 18:21 WIB

Mensos Serahkan Santunan Korban Meninggal Longsor Sukabumi

SUKABUMI, KRJOGJA.com - Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi warga terdampak longsor di Kampung Garehoy Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/1).
 
Hujan rintik turun saat Menteri Sosial dan rombongan tiba di lokasi longsor. Sejumlah relawan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dari Kabupaten Sukabumi dan Provinsi  Jawa Barat menyambut kedatangan orang nomor satu di Kementerian Sosial ini.  Turut mendampingi Menteri adalah Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, Sekjen Hartono Laras, dan Inspektur Jenderal Dadang Iskandar.
 
Mensos dan rombongan bergegas meninjau lokasi dan melihat langsung proses pencarian korban yang masih belum ditemukan. Setelah beberapa saat, rombongan bergerak ke Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Longsor yang berada di SMPN 3 Cisolok. Lokasi posko berada sekitar 500 meter dari area longsor.
 
Tiba di posko, Mensos menemui 11 ahli waris dari 13 korban meninggal dan menyalami mereka satu per satu seraya menyerahkan santunan kematian. Dari 13 warga yang meninggal dunia tersebut, sebanyak lima di antaranya adalah Penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan jasadnya sudah ditemukan.
 
Santunan untuk setiap jiwa Rp15 juta sehingga total santunan untuk korban meninggal longsor Sukabumi adalah Rp195 juta.
 
"Mewakili Bapak Presiden Joko Widodo, saya menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Semoga almarhum khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan," tutur Menteri Agus kepada para ahli waris korban meninggal.
 
Mensos juga mendoakan kepada warga terdampak longsor agar tabah dan sabar menghadapi cobaan ini.
 
"Bapak dan ibu tidak sendiri. Jangan kehilangan harapan. Tugas belum selesai. Kita akan terus bantu. Pencairan masih tetap dilanjutkan. Kita berdoa semoga ada mukzizat dari Allah sehingga mereka yang hilang dapat ditemukan," katanya.
 
Dikatakan Menteri, tidak hanya di Cisolok namun dimanapun bencananya pada hari pertama dan kedua merupakan hari-hari yang paling sulit. Untuk itu kepada warga terdampak longsor yang anggota keluarganya belum ditemukan mari kita berdoa semoga dapat segera ditemukan.
 
"Kepada tim yang melakukan evakuasi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Polri, TNI, Pemkab Sukabumi, BNPB, Basarnas, PMI, Pramuka dan seluruh pihak yang membantu penanaganan di lapangan," katanya. 
 
Mensos juga mengapresiasi rasa kebersamaan, gotong royong dan keikhlasan warga sekitar yang dengan tulus menampung warga tersampak longsor, memberikan pakaian dan makanan yang layak kepada warga.
 
"Ada nilai yang positif yang bisa kita ambil dari penduduk Sukabumi khsusunya di desa Sirnaresmi bahwa kita temukan semangat dan nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang masih sangat tinggi. Keluarga yang kehilangan rumah tidak mengungsi di tenda-tenda tapi diterima dengan tangan terbuka oleh warga lain yang tidak terkena longsor. Diberikan tempat tinggal dan makanan. Itu menunjukkan semangat setia kawan sosial masih sangat tinggi. Itu yg harus kita pelihara," terangnya.
 
Seperti diketahui telah terjadi bencana tanah longsordi Kampung Garehoy Cimapag Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi pada hari Senin, 31 Desember 2018 pada pukul 17.00 WIB. Tanah Longsor ini terjadi akibat hujan yang terus mengguyur dalam seminggu terakhir di kawasan ini mengakibatkan tanah labil dan bergerak.
 
Warga di kampung ini sebanyak 101 jiwa/101 KK. Akibat bencana ini sebanyak 28 unit rumah tertimbun, 13 jiwa meninggal dunia, 3 jiwa mengalami luka berat dan dirawat di RSUD Palabuhan Ratu. Diperkirakan sebanyak 21 jiwa hilang dan dalam proses pencarian. Sedangkan jumlah pengungsi saat ini sebanyak 61 jiwa berada di rumah-rumah keluarga atau kerabat.
 
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengatakan sejumlah upaya telah dilakukan yakni berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Tagana Provinsi Jawa Barat serta Kabupaten Sukabumi tentang aktivitas penanganan warga terdampak, menerjunkan Tagana Kabupaten Sukabumi sebanyak 15 orang dan 3 unit motor dapur umum lapangan, melakukan pendataan korban meninggal sekaligus melakukan verifikasi dan validasi ahli waris.
 
“Tagana Kabupaten Sukabumi mendirikan dapur umum untuk pemenuhan kebutuhan dasar korban yang selamat dan tim SAR gabungan. Tagana juga melakukan pendampingan bagi keluarga korban agar tidak menjadi kesedihan yang berkepanjangan,” terang Dirjen.
 
Bantuan pemerintah juga sudah disalurkan kepada warga terdampak bencana longsor berupa paket perlengkapan pribadi untuk laki-laki dan perempuan, paket perlengkapan alat mandi, bantuan makanan, sembako dan selimut. Total bantuan logistik tahap pertama adalah Rp47.564.400.
 
“Total bantuan dari pemerintah berupa logistik dan santunan adalah Rp242.564.400,” kata Dirjen.
 
Ditambahkan Dirjen Harry pihaknya telah mengintruksikan kepada Pendamping PKH untuk mendata korban selamat yang merupakan penerima Program Keluarga Harapan (PKH).
 
“Biasanya yang sering terjadi ketika ada bencana, mereka kehilangan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) karena rumah mereka tertimbun longsor. Jadi sekarang pendataan sudah dimulai dan mudah-mudahan bansos PKH untuk mereka bisa cepat dicairkan," katanya.(ati)