Ragam Editor : Agus Sigit Kamis, 03 Januari 2019 / 15:47 WIB

Pemuda Ini Pilih Tidak Mau Menikah, Ternyata Pasangan Gaibnya Adalah...

BARDI (nama samaran), lelaki gagah berambut cepak. Tapi ia bukan dari angkatan. Sekalipun sudah berumur, tapi ia belum mau menikah. Putra sulung dari Pak Warno dan ibu Ayom (semua nama samaran) ini masih bersikukuh untuk sendiri, meski sudah punya harta yang mumpuni untuk “rabi”.

Sunti adik Bardi, berusaha mencarikan wanita yang cocok untuk kakaknya, yang sekarang sudah mau menginjak kepala empat. Sunti sendiri sudah menikah 5 tahun yang lalu dan sudah punya anak.

Satu dua wanita dikenalkan Sunti ada kakaknya, namun sang kakak tetap tidak mau menikah. Ada-ada saja alasannya. “Aku kurang cocok”, “Janda itu banyak anaknya”, “Janda itu terlalu cantik buat aku”, dll.

Tapi Sunti tak patah semangat. Dia selalu mencari kunci “kenapa kang Bardi belum mau rabi?”. Pada suatu malam dia terbangun untuk membuatkan susu anaknya. Kebetulan rumah Bardi, Sunti,dan orang tua jadi satu. Di sela-sela suara jangkrik, Sunti mendengar Bardi sedang berbincang dengan wanita dengan suara manja. Sunti pun berjalan pelan mendekati “triplek” kamar Bardi, berusaha mendengarkan percakapan tersebut. Sayup-sayup Sunti mendengar “Kanda… apakah kanda sudah mulai terpikat oleh salah satu wanita yang dicalonkan Sunti? kalau gitu aku ditinggal gitu saja ya,” kata si wanita sambil terisak.

“Tidak Adinda. Kang Bar gak akan ninggalin Dinda, tenang to sayang.. Walaupun Sunti pusing mencarikan janda atau perawan untukku, aku ya tetep pilih kamu, kamu satu,” begitu suara Bardi yang berhasil ditangkap pendengaran Sunti.

Sunti pun jadi greget, siapa sebenarnya wanita itu, tak beradab sekali dia. Kalau memang sudah saling cinta, mengapa tidak menikah saja? Mengapa harus “kucing-kucingan” di kamar, berduaan malam-malam. Setelah kurang lebih setengah jam Sunti di balik triplek, dengan gregetan dia mendobrak kamar Bardi. Dubrak….. Setelah terbuka, Sunti kaget bukan kepalang.

“Astaghfirullah kang…Kuwi gegere bolong yo kang,” teriak Sunti sambil menangis yang membuat bukan hanya seisi rumah yang terbangun tapi juga seisi kampung.

Warga pun berbondong-bondong menuju rumah Bardi, sampai di sana mereka hanya menemukan Bardi yang terbaring lesu di atas ranjang dan Sunti yang “ngebrok” sambil menangis dan terus berkata “Kuwi…kuwi…bolong gegere kang dudu menungso kang. makane kakang kok ora gelem rabi-rabi huuuu hu hu.” Setelah kejadian itu, Bardi dirukyah. Dan satu tahun berlalu, Bardi sudah mempunyai istri yang dicintainya. (Isna Wanti)