Jateng Editor : Danar Widiyanto Jumat, 28 Desember 2018 / 20:10 WIB

PJBL Ditandatangani, Listrik Sampah Putri Cempo Beroperasi 2020

SOLO, KRJOGJA.com - Impian mewujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, akhirnya mendekati kenyataan, setelah Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) antara Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP), ditandatangani tepat pada hari kerja terakhir tahun 2018, Jumat (28/12/2018). Penandatangan dokumen ini nyaris berlarut-larut hingga molor selama hampir tiga tahun sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menjalin kerjasama dengan PT SCMPP selaku investor pembangunan PLTSa Putri Cempo.

Asisten Deputy Infrastruktur Pertambangan dan Energi, Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman, Yudi Prabangkara, menjawab wartawan usai penandatangan PJBL di Loji Gandrung, Jumat (28/12/2018) mengungkapkan, dokumen PJBL ini memang menjadi penentu, sebab pihak investor belum bisa membangun konstruksi PLTSa, sebelum ada jaminan pembelian energi listrik yang dihasilkan. Proses yanag dilalui memang sangat panjang, pihak investor di satu sisi mempersiapkan seluruh perencanaan beserta dokumen administrasi yang diperlukan, sedangkan pihak PLN juga melakukan kajian mendalam tentang proses pengolahan sampah menjadi energi listrik hingga layak didistrbusikan ke masyarakat.

Kendati proses yang telah dilalui cukup panjang, namun penandatanganan PJBL ini menjadi titik awal untuk mewujudkan PLTSa yang saat ini masuk skala prioritas dari 37 proyek strategis nasional. Setelah PJBL ditandatangani, investor diharapkan segera membangun konstruksi serta pemasangan mesin yang diperkirakan memakan waktu selama satu setengah tahun, sehingga PLTSa Putri Cempo diproyeksikan mulai beroperasi tahun 2020 mendatang.

Di seluruh Indonesia, saat ini tercatat 12 kota yang ditunjuk menjadi pilot proyek pembangunan PLTSa, masing-masing DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Denpasar, Makasar, Palembang, dan Manado. Dari 12 kota tersebut, hingga kini baru Kota Solo telah memasuki tahap penandatangan PJBL, sedangkan yang lain  masih dalam tahap persiapan. "Saya berharap, kota lain juga segera menyusul Kota Solo untuk mewujudkan PLTSa sebagai salah satu upaya penanganan masalah sampah selain pula penyediaan energi," ujarnya.

Di sisi lain, General Manager Unit Induk Distribusi PLN Jawa Tengah, Agung Nugraha, menambahkan, listrik yang dihasilkan PLTSa Putri Cempo, nantinya akan disambungkan dengan jaringan distribusi Palur. Sementara ini, listrik produksi PLTSa Putri Cempo diperkirakan mencapai 5 Mega Watt (MW) per jam, dan secara bertahap akan dinaikkan menjadi 10 MW. Dia berharap, penandatangan PJBL segera ditindaklanjuti dengan pembangunan konstruksi, sebab seluruh tahapan telah dituangkan dalam perjanjian kontrak.

Sedangkan Direktur Utama (Dirut) PT SCMPP Elan Suherlan, menyebutkan, kendati penandatangan PJBL molor hingga beberaopa tahun, tak terlalu berpengaruh pada tahapan pembangunan PLTSa. Tahun 2019, diyakini pembangunan PLTSa sudah bisa dilaksanakan, setelah memperoleh pendanaan dari perbankan, sehingga akhir tahun 2020 sudah bisa beroperasi. "Memang ada sedikit perubahan 'time schedule', tapi semua tetap berjalan dengan maksimal," jelasnya. (Hut)