Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Selasa, 25 Desember 2018 / 17:50 WIB

Tsunami Susulan Masih Mengintai Pesisir Pantai Selat Sunda

PESISIR pantai Selat Sunda dihantam tsunami yang datang tanpa pertanda pada Sabtu 22 Desember 2018 malam. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan empat kabupaten terdampak yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan dan Tanggamus.

Badan SAR Nasional (Basarnas) mencatat hingga kini 334 orang meninggal dunia akibat gelombang tsunami yang menerjang perairan Selat Sunda, Provinsi Banten, Sabtu malam. Jumlah itu masih sementara dan ada kemungkinan bertambah.

Laporan dari lapangan yang diterima pada pukul 11.00 WIB menunjukkan 764 orang lainnya luka-luka, dan 61 orang hilang.

Diduga kuat tsunami dahsyat itu terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sejumlah ahli dari luar negeri pun turut berkomentar atas musibah tersebut.

Ahli lainnya, seperti dikutip dari Channel News, Senin (24/12/2018) memperingatkan pada hari Minggu, sehari setelah gelombang dahsyat menerjang pesisir pantai bahwa tsunami lain dapat menghantam Indonesia.

Ketika aktivitas vulkanik berlanjut, kemungkinan tsunami lain tidak dapat diabaikan.

"Kemungkinan tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi ketika gunung berapi Anak Krakatau sedang melalui fase aktif saat ini karena mungkin bisa memicu longsor lebih lanjut," kata Richard Teeuw dari University of Portsmouth di Inggris.

Jacques-Marie Bardintzeff di University of Paris-South juga memperingatkan bahwa "kita harus waspada saat ini karena gunung berapi itu tidak stabil".

Teeuw mengatakan bahwa survei sonar kini diperlukan untuk memetakan dasar laut di sekitar gunung berapi Anak Krakatau, tetapi "sayangnya survei kapal selam biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diorganisir dan dilaksanakan," tambahnya.

Tsunami dahsyat yang disebabkan oleh letusan gunung berapi jarang terjadi; salah satu yang paling terkenal (dan mematikan) disebabkan oleh letusan Krakatau pada tahun 1883.

"Tsunami yang melanda pesisir selatan Sumatra dan Jawa barat pada hari Sabtu tampaknya disebabkan oleh longsor bawah air dari bagian Anak Krakatau," kata David Rothery dari Universitas Terbuka di Inggris.

Anak Krakatau adalah pulau baru yang muncul sekitar tahun 1928 di kawah yang ditinggalkan oleh induknya, Krakatau yang letusannya mahadahsyat pada 1883 dan menewaskan sedikitnya 36.000 orang.

Gunung berapi ini tercatat aktif sejak Juni, kata Jacques-Marie Bardintzeff di University of Paris-South.(*)