Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 23 Desember 2018 / 16:27 WIB

Beri Efek Jera, Perda Miras Perberat Hukuman Pelaku

KUDUS, KRJOGJA.com - Korban meninggal akibat minuman keras (miras) sudah sering terjadi, namun produksi dan peredaran barang haram itu masih berlangsung. Ironisnya, peredaran miras juga terjadi di wilayah Kabupaten Kudus yang selama ini dikenal sebagai tempat religius dan mendapat julukan Kota Santri.

Keprihatinan itu diungkapkan Bupati Kudus Muhammad Tamzil, usai gelar pasukan Operasi Lilin Candi 2018 dan pemusnahan miras di halam Mapolres Kudus, Jumat (21/12). Sesuai Perda Nomer 12 Tahun 2004 tentang kandungan minuman beralkohol nol persen, seharusnya di Kudus tidak ada lagi miras yang beredar. Namun faktanya, peredaran miras mjasih dijumpai karena sanksinya tidak memberikan efek jera bagi pelakunya.

Berdasarkan regulasi yang diatur dalam perda, sanksi pelanggar hanya berupa kurungan maksimal tiga bulan dan denda Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. “Perda yang ada harus dikaji ulang dengan revisi sanksi berat dan denda lebih besar,” usulnya.

Sedang Ketua DPRD Kudus Akhmad Yusuf Roni menilai, persoalan miras menjadi hal kontradiktif. Selama ini Kota Keretek dikenal sebagai salah satu kawasan syiar agama Islam di Indonesia. Namun di sana- sini masih ditemukan miras.

“Kami sepakat dan mendukung revisi perda miras, dengan sanksi denda dan kurungan lebih berat. Hanya untuk revisi perda belum dapat dilakukan tahun 2019, karena masa transisi dan banyak agenda politik lainnya. Kemungkinan revisi baru dilakukan tahun 2020,” ujarnya. (Trq)