DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 22 Desember 2018 / 10:28 WIB

JARAK GUGURAN LAVA BERTAMBAH

Merapi Bergemuruh, Warga Tenang

SLEMAN, KRJOGJA.com - Guguran lava Gunung Merapi terus terjadi pada Jumat (21/12). Informasi dari BPPTKG, yang terbesar terjadi Pukul 12.21 ke hulu Kali Gendol dengan durasi 129 detik dan jarak luncur diperkirakan sejauh 1 kilometer berdasar durasi data seismik. Amplitudo guguran 71 mm. Saat kejadian, cuaca di sekitar Gunung Merapi berkabut.

Sebelumnya, tepatnya pada pagi hari juga terlihat adanya guguran lava pijar. Guguran yang terlihat dalam bentuk asap tebal tersebut diiringi suara gemuruh yang terdengar sedikitnya tiga kali. Arahnya menuju ke sisi selatan yang diperkirakan juga menuju ke Kali Gendol.

Berdasarkan pantauan KR, suara gemuruh itu terdengar sejak usai Subuh hingga pukul 09.00. Meskipun ada suara gemuruh, warga di Lereng Merapi tetap tenang. Salah satu warga, Timbul mengaku, dengan situasi seperti sekarang ini warga di lereng Merapi masih tetap tenang. Justru kondisi ini menjadi tontonan warga.

Dikatakan Timbul, suara gemuruh itu memang berasal dari puncak Merapi. "Asap yang tadi terlihat, itulah lava pijar. Karena terlihatnya saat sudah terang, maka yang tampak adalah asap," terangnya. "Kalau cuaca cerah dan puncak Merapi terlihat jelas, warga bisa menyaksikan luncurkan lava pijar dari tempat ini karena sangat jelas," ujar pemilik warung di Bukit Klangon ini. 

Menurutnya, setiap akhir pekan atau hari libur, masyarakat yang akan melihat lava pijar banyak. Mereka berkemah dengan mendirikan tenda. Sekarang ini telah disiapkan 11 gazebo di Bukit Klangon yang bisa dimanfaatkan warga jika ingin menyaksikan lava pijar.

Sementara itu, guguran lava Merapi kembali terjadi pada, Jumat (21/12) pukul 12.21 WIB selama 129 detik dengan jarak luncur diperkirakan sejauh 1 km ke hulu Kali Gendol. Data seismik menunjukkan amplitudo guguran 71 mm. Status Merapi masih Waspada (level II)

"Guguran lava kali ini memang lebih besar dari sebelumnya, tapi itu masih dalam radius kurang dari 3 km," terang Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Dr Agus Budi Santoso kepada <I>KR<P>, Jumat (21/12).

Menurut Agus Budi, dari data seismik (kegempaan), jumlah guguran lava Merapi rata-rata masih 40 kali dalam sehari, dengan dominasi ke dalam kawah. Sementara guguran yang teramati keluar kawah masih sedikit, rata-rata 1-2 kali dalam sehari. "Satu-satunya jalan keluar guguran lava adalah melalui bukaan kawah hulu Kali Gendol (arah tenggara), karena sisi yang lain terhalang tebing kawah," ujarnya.

Soal suara gemuruh yang terdengar, kata Agus Budi, itu merupakan aktivitas guguran lava. "Kalau kita berada di dekat Merapi, memang akan terdengar suara gemuruh. Kalau tidak teramati berarti gugurannya terjadi di dalam kawah," tuturnya.

Adapun volume kubah lava per 19 Desember 2018, mencapai 370.000 m3 dengan laju pertumbuhan kubah lava 2.000 m3 perhari (kategori rendah). Jika melihat erupsi 2006, volume kubah lava terbesarnya mencapai 4,3 juta m3 dan volume guguran lava terbesarnya sebanyak 1,3 juta m3 dengan jarak luncur mencapai 7 km. "Jadi masih cukup jauh ya kondisi sekarang dibanding erupsi 2006," katanya. (Sni/Sal/Dev)