Jateng Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 22 Desember 2018 / 05:10 WIB

Tidak Sekedar Menari di Sanggar Prigel

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Sanggar Tari Prigel merupakan sanggar tari paling eksis di Kabupaten Purworejo. Sanggar yang berdiri sejak tahun 1985 itu kini memiliki sedikitnya 200 murid dan terus secara rutin menjalankan aktivitas latihan. 

Eksistensi tersebut terbukti dengan sering terlibatnya sanggar dalam berbagai pentas berbagai skala. Bahkan penari sanggar Prigel tampil di ajang seni bertaraf internasional yang diselenggarakan di beberapa negara. "Kami bisa diterima masyarakat karena berbeda, kami tidak sekedar melatih tari," ujar  pendiri Sanggar Tari Prigel F Untariningsih, kepada KRJOGJA.com, Jumat (21/12/2018). 

Enam pelatih sanggar melatih dengan metode asah, asih dan asuh. Asah berarti pelatih harus mumpuni dan berkualitas agar mampu mendidik murid tari. 

Asih, lanjutnya, adalah mencintai yang berarti bahwa selain melatih dengan ketegasan, guru tari harus mampu menyelami emosional murid-muridnya. Sementara asuh memiliki arti bahwa pelatih dituntut mampu membina para penari. 

Pengelola Sanggar Tari Prigel Melania Sinaring Putri SSn mengemukakan, sanggar mengajarkan berbagai jenis tari mulai klasik hingga kreasi. "Ada belasan jenis tari yang diajarkan pelatih
sanggar," tuturnya. 

Kendati mengajarkan belasan jenis tarian, namun sanggar tidak melupakan kesenian lokal seperti Tari Dolalak. Menurutnya, sanggar memiliki tanggung jawab membantu melestarikan kesenian khas Kabupaten Purworejo. "Dolalak diutamakan karena seni khas Purworejo," ucapnya. 

Ditambahkan, salah satu bagian pengajaran yang diterapkan sanggar adalah ujian. Ujian diselenggatakan setahun sekali untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengiasaan materi oleh anak didik setahun terakhir. 

Selain itu, ujian yang dikonsep dalam bentuk pagelaran itu menjadi medua hiburan dan apresiasi bagi pecinta seni Purworejo. "Pagelaran ini memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi dan berapresiasi. Melalui kesempatan ini orang tua juga dapat mengetahui pencapaian anaknya,” ungkapnya. 

Dalam ujian jelang tutup tahun 2018, sebanyak 211 penari yang dibagi dalam 22 kelompok, ikut ambil bagian. Mereka membawakan 16 jenis tarian di atas panggung Gedung Kesenian Sarwo Edhie. 

Penari cilik Syafira Raispratisena Aswan mengaku ingin membanggakan orang tuanya lewat tari. "Saya setiap latihan diantar orang tua, jadi saat ujian harus tampil terbaik agar mereka bangga," kata siswi kelas 4 SD Kliwonan itu.(Jas)