DIY Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 19 Desember 2018 / 13:42 WIB

Lava Pijar Merapi, Wisata Unggulan

YOGYA, KRJOGJA.com - Kubah lava Gunung Merapi terus bertumbuh seiring dengan suplay magma ke permukaan puncak. Suplay memunculkan lava pijar berkali-kali. Pantauan KR dari bukit Klangon Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan Sleman, Senin (17/12) malam sampai Selasa (18/12) dini hari, menunjukkan adanya guguran lava pijar, meski terlihat kecil.

Berbeda dengan kemunculan guguran lava pijar pada Minggu (16/12) pukul 19.09 WIB, dimana dalam tayangan video terlihat lebih besar, karena guguran lava pijar jatuh ke arah hulu Kali Gendol.

Kemunculan guguran lava pijar ini, menurut Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto akan menjadi suguhan atau atraksi wisata yang potensial guna menarik wisatawan ke DIY akhir
tahun ini. Fenomena alam ini, terbukti sudah mampu menyedot wisatawan
beberapa tahun lalu, setelah sebelumnya dipromosikan secara gencar terlebih dahulu.

"Tidak setiap saat, berkesempatan dapat menyaksikan fenomena alam yang terjadi di Gunung Merapi. Bagus dan akan sangat menonjol bagi pariwisata di DIY jika bisa dipromosikan Desember ini,” tuturnya

Udhi meminta agar diinformasikan waktu yang tepat dan titik-titik yang aman untuk menyaksikannya. Terlebih tidak setiap orang bisa berkesempatan menyaksikan atraksi lava pijar yang dikeluarkan Gunung Merapi tersebut.

"Tentunya kita tetap harus mematuhi imbauan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk jarak aman sampai sejauh mana wisatawan bisa melhat fenomena keluarnya lava pijar dari Gunung Merapi. Kalau bisa pengelola pariwisata di kawasan lereng Merapi bisa menentukan titik-titik terbaik dan aman untuk menyaksikan fenomena alam,”
papar Udhi.

Direktur Antar Anda Tour and Travel tersebut dengan kemasan yang menarik, atraksi guguran lava pijar Gunung Merapi ini bisa menjadi pilihan unggulan di DIY sehingga wisatawan tidak hanya terpusat di pusat kota maupun destinasi wisata konvensional.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Dr Hanik Humaida kepada KRJOGJ.com, Selasa (18/12) menjelaskan, selama fase pertumbuhan kubah lava, guguran lava akan terus terjadi. Hal itu disebabkan adanya pergerakan magma dari dalam menuju permukaan yang memunculkan gempa guguran. "Guguran lava sebenarnya telah terjadi sejak awal pembentukan kubah lava pada Agustus lalu dan terus terjadi hingga saat ini,” terangnya. (Sal/Bro/Dev/Ira)